Senandung Shakuhachi

 




Malam di kota Edo, tahun 1605 M.

Dari pelataran kuil Zōjō-ji, lampu-lampu lentera tampak seperti bintang yang jatuh ke tanah — bergetar lembut di antara embun dan bau dupa yang mengapung dari aula utama. Udara dingin, namun mengandung keheningan yang padat, seolah setiap napas adalah bagian dari doa yang belum selesai.

Di bawah langit itu, berdirilah seorang lelaki berpakaian kimono hitam yang warnanya nyaris menyatu dengan malam. Di pinggangnya tergantung dua katana, lambang kehormatannya yang masih melekat meski tuannya telah lama tiada. Hayato Kuroda, samurai dari klan kecil yang ditelan api perang Sekigahara — perang terakhir yang mengakhiri kekacauan dan melahirkan kedamaian di bawah satu nama: Tokugawa Ieyasu.

Ia datang terlambat malam itu. Upacara peringatan bagi para daimyo yang gugur sudah hampir selesai. Lentera-lentera telah padam satu per satu, dan suara gong dari dalam kuil menggema seperti gema doa yang tertinggal di balik pintu kayu besar. Di anak tangga batu, biksu-biksu berjubah cokelat melangkah perlahan, membawa baki dupa yang masih mengepul.

Hayato berhenti di ujung pelataran. Cahaya obor menyentuh sebagian wajahnya — cukup untuk memperlihatkan guratan yang belum hilang sejak perang berakhir. Ia menatap ke arah aula utama, tempat Shogun Ieyasu berdiri diam, tubuhnya tegap bagai batu di tengah dupa.

Ada sesuatu yang menusuk dalam dada Hayato. Ia pernah melihat lelaki itu — dulu, di medan perang. Ia ingat jelas bagaimana panji-panji Tokugawa berkibar di antara hujan panah, dan bagaimana suaranya menggema memberi perintah yang mengubah nasib ribuan prajurit. Kini, lelaki yang dulu menjadi musuh tuannya berdiri sebagai penguasa tertinggi Jepang.

Hayato menunduk, tapi di hatinya, amarah yang lama terkubur mulai mengalir lagi seperti darah yang hangat.

“Berdoalah untuk mereka yang telah gugur,” kata salah seorang sohei dengan suara lembut, seolah angin yang lewat.

Hayato hanya mengangguk. Namun setiap kali asap dupa menyentuh wajahnya, ia merasa bukan kedamaian yang datang, melainkan bayangan wajah tuannya — Daimyo Matsunaga — yang tewas di Sekigahara, dadanya tertembus tombak dengan mata yang masih terbuka menatap langit.

Di sekeliling pelataran, suara sandal kayu bersentuhan dengan batu basah. Para samurai dari berbagai klan berbaris, memberi hormat, lalu pergi satu per satu. Hanya sedikit yang mengenali Hayato, dan mereka yang mengenal pun pura-pura tidak melihatnya. Di masa damai, nama Kuroda tidak lagi berarti apa-apa. Seorang rōnin tanpa tuan hanyalah bayangan yang memantul di permukaan air — tak punya bentuk yang nyata.

Ketika lonceng kuil berdentang tiga kali, sisa dupa di pelataran habis terbakar. Angin dari arah sungai Sumida membawa suara seruling yang lembut, panjang, dan ganjil — bukan shamisen, bukan suling istana. Nada itu turun naik seperti napas orang yang tengah berdoa, lalu terhenti tiba-tiba, seolah menunggu jawaban.

Hayato menoleh. Di sisi gerbang timur kuil, berdiri seorang lelaki memakai caping anyaman bambu — tengai, penutup kepala khas pengembara komusō. Tubuhnya dibungkus kimono kasar warna abu-abu, dan di tangannya tergenggam sebuah shakuhachi — seruling bambu Zen. Tak ada yang tahu wajahnya, hanya suaranya yang menembus kabut seperti arwah yang menolak tenang.

Hayato mendengarkan. Setiap nada shakuhachi itu menembus jantungnya lebih dalam dari doa mana pun yang ia dengar malam itu. Musik itu mengalir pelan, menirukan suara napas panjang yang patah-patah, lalu melengkung dalam nada rendah yang seolah berkata: semua yang hidup telah tiada; semua yang mati belum pergi.

Ia melangkah mendekat. Batu-batu pelataran berembun, pantulan lentera menari di bawah kakinya. Komusō itu tetap meniup serulingnya, seolah tak menyadari kehadiran siapa pun. Hayato berdiri tak jauh darinya, menatap tengai yang menutupi wajah sang pengembara.

“Lagu apa itu?” tanya Hayato pelan.

Nada shakuhachi berhenti seketika. Dari dalam tengai terdengar suara berat, nyaris seperti bisikan:

“Itu bukan lagu, itu doa bagi mereka yang tak sempat didoakan.”

Hayato menatap seruling itu. Bambu tua, retak di ujungnya, namun suaranya masih penuh tenaga.

“Kau meniupnya untuk siapa?”

Komusō mengangkat kepalanya sedikit, tapi wajahnya tetap tersembunyi di balik anyaman.

“Untuk dunia yang sudah kehilangan katananya.”

Jawaban itu membuat Hayato terdiam. Dunia tanpa katana — dunia yang kini dijaga oleh hukum shogun, di mana kehormatan ditentukan oleh pena dan izin, bukan oleh keberanian di medan perang.

Ia berpaling ke arah aula utama. Di sana, Shogun Ieyasu telah pergi, diikuti oleh para pengawalnya. Hanya sisa dupa yang masih membara di altar, menandai berakhirnya upacara.

Hayato berlutut perlahan di pelataran yang kini sunyi. Ia menunduk dalam, menatap bayangan katananya di permukaan batu yang basah. Dalam cahaya samar lentera, bayangan itu tampak seperti tubuh orang lain — lebih panjang, lebih gelap.

Ia teringat kata-kata terakhir tuannya di Sekigahara:

“Jika aku jatuh, jangan buru-buru mati. Lihatlah bagaimana dunia memperlakukan kehormatan.”

Sejak hari itu, Hayato tidak pernah tahu apakah perintah itu adalah berkat atau kutukan. Ia hidup, tapi setiap hari terasa seperti kematian yang tertunda.

Di langit, bulan separuh muncul di balik awan. Cahaya putihnya menimpa punggung Hayato, lalu mengenai katananya. Ia mengangkat kepala, memandang langit yang sama yang dulu disaksikan tuannya dalam pertempuran terakhir.

Ia menatap kembali ke arah komusō itu, tapi lelaki itu telah pergi — hanya suara shakuhachi yang memudar di kejauhan, seperti doa yang tertiup angin.

Hayato berdiri. Tangannya menyentuh gagang katana. Dingin. Diam. Dalam hatinya, suara seruling itu masih berputar, bercampur dengan kenangan tentang darah dan api. Ia berbisik pada dirinya sendiri:

“Jika kehormatan tak dapat ditegakkan, maka biarlah namaku terkubur bersama angin.”

Suara itu nyaris tak terdengar, tapi cukup bagi para roh di malam itu untuk berhenti sejenak. Seekor gagak terbang dari atap kuil, meninggalkan bayangan hitam di atas kepala Hayato.

Ia berjalan perlahan menuruni tangga batu, melewati taman kecil yang dipenuhi lentera padam dan sisa dupa yang hangus. Di bawah sana, rumah-rumah para samurai terlihat bagai bayangan di balik tirai hujan tipis.

Setiap langkahnya bergema pelan — tak lagi langkah seorang prajurit, tapi bukan pula langkah seorang pengemis. Antara keduanya, ia seperti suara seruling itu sendiri: bukan musik, bukan doa, hanya napas yang menolak berhenti.

Di luar gerbang kuil, seekor kuda lewat perlahan. Penunggangnya mengenakan pakaian resmi shogun, lambang Tokugawa di dadanya memantulkan cahaya lentera. Hayato menunduk, tapi dalam hatinya terasa gemetar kecil yang tak bisa ia kendalikan. Ia tahu, suatu hari nanti, ia harus memilih — apakah menjadi angin yang menghapus jejak masa lalu, atau katana yang kembali berkarat oleh darah.

Namun malam itu belum ada keputusan. Ia berhenti di bawah pohon cemara tua, memandang ke arah langit Edo yang berat dan rendah. Di kejauhan, shakuhachi itu terdengar lagi — jauh, samar, seperti datang dari dalam bumi.

Hayato menutup matanya. Dalam gelap, ia masih melihat wajah tuannya, tangan yang menunjuk ke depan, suara yang memerintah tanpa ragu.

“Jangan buru-buru mati,” suara itu berkata lagi dalam pikirannya.

Hayato membuka matanya. Angin dari utara berhembus, membawa bau asin dari Teluk Edo. Ia menarik napas panjang. Kabut menelan bayangannya, lalu hilang bersama malam.

Di belakangnya, kuil Zōjō-ji berdiri tegap, hitam melawan langit. Dupa terakhir padam tepat ketika lonceng tengah malam berdentang. Suaranya memantul di dinding kayu, melewati taman, menembus jalan batu, lalu hilang ke arah sungai.

Bagi orang lain, malam itu hanyalah malam peringatan. Tapi bagi Hayato Kuroda, malam itu adalah permulaan dari sesuatu yang lain — sesuatu yang lahir dari keheningan, dari luka yang tidak pernah sembuh, dan dari suara bambu yang meniupkan kabar kepada angin: bahwa kehormatan, sekali jatuh, hanya bisa ditebus dengan kematian atau penebusan yang lebih sunyi dari maut itu sendiri.

 

Angin dari Teluk Edo berhembus lembut ketika fajar menyingkap kabut di sepanjang jalan Tōkaidō. Jalan besar yang menghubungkan ibu kota baru dengan barat negeri itu kini ramai oleh pedagang, ronin, dan para biksu pengembara. Di sepanjang tepian jalan, lentera kertas bergoyang di depan rumah teh dan penginapan, memantulkan cahaya temaram ke atas lumpur yang masih basah oleh hujan malam sebelumnya.

Hayato Kuroda berjalan perlahan di antara mereka, mengenakan hanten lusuh dan topi jerami yang menutupi sebagian wajahnya. Di pundaknya tergantung kantung kecil berisi satu-satunya peninggalan masa lalu: katana tuannya yang telah tumpul dan sebuah gulungan kain bertuliskan sumpah klan yang kini telah lenyap dari peta negeri.

Ia tidak lagi memakai kamon, lambang keluarga. Ia adalah bayangan yang terlepas dari garis keturunan, dari kehormatan, dari sejarah.

Setiap langkah di jalan Tōkaidō terasa seperti langkah menuju penghapusan diri. Edo semakin jauh di belakangnya—dan bersama itu, segala bentuk nama dan kebanggaan yang dulu ia junjung. Namun, di dalam dadanya, sesuatu masih berdenyut: sebuah bara kecil yang belum padam.

Ketika matahari menanjak di langit, Hayato berhenti di tepi hutan pinus. Di sana, di bawah naungan batang-batang tinggi, duduk seorang lelaki berpakaian aneh. Tubuhnya diselimuti jubah hitam longgar, dan wajahnya tertutup sebuah tengai—keranjang anyaman besar yang menutupi seluruh kepala, hanya menyisakan lubang kecil untuk bernapas.

Dari celah tengai itu keluar suara seruling bambu. Nada-nadanya panjang, berliku, seperti desir angin yang tersesat di antara pegunungan.

Hayato tertegun.

Nada itu bukan lagu kemenangan, bukan pula lagu duka. Seperti suara seseorang yang telah menyerah kepada dunia, namun masih menolak untuk berhenti bernapas.

Ketika lagu berhenti, lelaki bertopi keranjang itu menunduk ke arahnya.

“Jalanmu panjang,” katanya dengan suara yang dalam dan bergetar. “Kau berjalan seperti orang yang kehilangan nama.”

Hayato menatapnya tajam. “Kau siapa?”

“Seorang komusō,” jawabnya, perlahan. “Kami pengembara dari kuil Fuke. Kami meniup shakuhachi bukan untuk hiburan, melainkan untuk menyucikan jiwa—karena setiap nada bambu adalah napas yang mendekatkan diri pada kekosongan.”

Ia menunduk sedikit, lalu mengangkat serulingnya. “Kau punya mata seorang samurai yang telah melepaskan katana. Apakah kau mencari jalan keluar dari darah?”

Hayato tidak menjawab. Angin berhembus melewati rambutnya yang berdebu. Di dalam dirinya, suara itu bergema: jalan keluar dari darah.

Ia menunduk, lalu berkata, “Aku mencari cara agar katanaku berhenti bergetar di dalam hati.”

Komusō itu menatap lama. “Maka, tiupkan napasmu ke bambu ini. Biarkan amarahmu menjadi udara. Jika suaramu jernih, mungkin rohmu akan tenang.”

Ia menyerahkan shakuhachi bambu yang sudah menguning. Hayato menerimanya dengan ragu, memandang alat itu seperti memandang seekor ular tidur. Ia menempelkan ujungnya ke bibir, meniup perlahan.

Suara yang keluar sumbang, patah, seperti helaan napas orang yang baru saja menangis.

Komusō itu tidak tertawa. “Bagus,” katanya pelan. “Bahkan suara terburuk pun adalah suara kebenaran, bila datang dari hati yang tulus.”

Hari-hari berikutnya mereka berjalan bersama menuju arah selatan, melewati sawah dan desa-desa yang baru dibangun kembali setelah perang besar Sekigahara. Di setiap tempat persinggahan, sang komusō mengajarinya meniup nada-nada pendek, mengenali pernapasan, dan mendengarkan keheningan di antara dua nada.

Namun setiap kali bambu itu ditiup, Hayato masih merasakan sesuatu menggumpal di dada—sebuah bayangan dari masa lalu, dari wajah-wajah yang jatuh di bawah katana sekutu Tokugawa.

Suatu senja, mereka tiba di sebuah rumah teh kecil di pinggir jalan, di dekat jembatan kayu yang menyeberangi sungai kecil menuju Kamakura. Lentera merah tergantung di pintunya, dan dari dalam terdengar denting shamisen. Nada-nadanya lembut, seperti rintik hujan di atas tatami.

Komusō itu menatap Hayato. “Berhentilah malam ini. Dengarkan dunia, bukan dirimu. Kadang musik orang lain bisa membuka pintu yang bahkan bambu tak bisa ketuk.”

Hayato melangkah masuk. Aroma sake dan asap arang menyambutnya. Di dalam, beberapa pedagang dan ronin duduk bersandar di dinding, tertawa pelan. Di sudut ruangan, di bawah cahaya lentera kertas, duduk seorang perempuan muda memainkan shamisen.

Rambutnya disanggul sederhana, dan wajahnya dipoles putih dengan sapuan tipis merah di bibir. Tapi matanya—mata itu—tidak ikut tersenyum bersama lagunya.

Ketika lagu usai, perempuan itu menatap Hayato yang berdiri di ambang pintu. “Tamu baru dari utara?” tanyanya dengan suara lembut.

“Aku hanya pengembara,” jawab Hayato.

Ia tersenyum samar. “Semua yang datang ke sini adalah pengembara. Hanya saja sebagian tak tahu apa yang mereka cari.”

Hayato duduk. Haru—begitu ia memperkenalkan diri—menuangkan teh panas untuknya. Saat ia hendak pergi, Hayato mengeluarkan shakuhachi dan mulai meniup perlahan. Nada yang keluar tidak teratur, tetapi mengandung ketegangan yang aneh—seperti katana yang belum menembus daging, namun sudah mencium darah.

Haru berhenti di tempat. Ia menatapnya lama, lalu berkata dengan suara hampir berbisik,

“Nada bambumu bergetar seperti katana yang belum puas menebas.”

Hayato menatap ke bawah, matanya redup. “Mungkin karena katana itu belum menemukan leher yang tepat.”

Haru terdiam. Ia menatap wajah Hayato, mencari sesuatu di balik tenangnya raut itu—mungkin duka, mungkin dosa. Akhirnya ia berkata pelan,

“Jika demikian, berhati-hatilah. Kadang leher itu milik diri sendiri.”

Angin malam berembus masuk melalui tirai bambu, memadamkan sebagian cahaya lentera. Musik, teh, dan napas bercampur jadi satu aroma sunyi. Di luar, suara komusō tua itu terdengar kembali, meniup lagu yang sama seperti saat mereka bertemu di hutan: panjang, berat, dan nyaris tanpa ujung.

Hayato menatap seruling di tangannya. Di bambu itu, ia melihat bayangan dua dunia—yang satu penuh darah, yang satu penuh keheningan. Namun keduanya berputar seperti dua sisi mata uang yang dilempar ke udara, tak pernah benar-benar jatuh di satu sisi saja.

Malam itu, di rumah teh pinggir jalan Tōkaidō, ia sadar bahwa jalan menuju sunyi tidak selalu bebas dari gema masa lalu. Dan bahwa di balik setiap nada shakuhachi, masih ada bayangan katana yang menunggu waktu untuk berbicara.

 

Tahun 1606 M. Musim semi datang lebih cepat dari biasanya. Pohon-pohon sakura di sepanjang jalan Tōkaidō telah mekar sempurna, kelopaknya berputar di udara, menari di atas atap genteng tua yang basah oleh embun pagi. Burung-burung kembali bersuara di antara ranting, dan kota kecil itu seolah menghela napas lega setelah tahun-tahun panjang peperangan.

Namun bagi sebagian orang, kedamaian adalah bentuk kesunyian yang lain—lebih tajam, lebih sulit ditanggung.

Hayato Kuroda tiba di Suruga menjelang senja. Ia kini mengenakan jubah hitam sederhana dan tengai—keranjang anyaman yang menutupi wajahnya, tanda seorang komusō sejati. Di tangannya hanya ada shakuhachi bambu yang kini mulai retak di ujungnya, seperti menua bersama napas pemiliknya.

Ia berjalan di antara para peziarah dan pedagang, melewati papan kayu bertuliskan kata-kata baru: “Zaman damai di bawah Shogun Tokugawa Ieyasu.”

Kata “damai” itu membuat langkahnya berhenti sesaat. Di balik tengai, matanya menatap tulisan itu lama-lama, seolah setiap hurufnya adalah luka yang belum sembuh. Ia tahu, damai yang dimaksud bukan untuk semua orang. Beberapa nama, seperti nama tuannya, sudah lama dihapus dari catatan, seolah tak pernah ada.

Malam itu ia berhenti di sebuah rumah teh di tepi jalan, di mana suara shamisen mengalun lembut di antara bau sake dan tatami basah. Ia duduk di sudut, menundukkan kepala, meniup seruling pelan untuk mengiringi musik dari dalam.

Nada-nadanya pelan, penuh udara. Satu-dua tamu menoleh, bertanya-tanya siapa komusō itu yang meniup dengan suara seperti arwah laut.

Kemudian tirai bambu diangkat dari dalam, dan seseorang keluar membawa nampan teh.
Langkahnya ringan, namun ketika ia berhenti di depan Hayato, udara seolah menegang.

“Sudah lama, pengembara bambu,” suara itu berbisik.

Hayato mengangkat kepalanya sedikit. Di bawah cahaya lentera, wajah itu tampak—Haru.
Rambutnya kini disanggul lebih rumit, dengan tusuk rambut berhiaskan perak. Kimono-nya berwarna biru malam, dan gerakannya halus seperti air. Tapi di balik senyum yang sama, matanya menyimpan sesuatu yang lebih berat: pengetahuan.

“Kau masih di jalan yang sama,” katanya. “Aku sudah mendengar nada serulingmu sebelum kau menyeberang jembatan.”

Hayato menunduk. “Nada itu hanya untuk diri sendiri.”

“Tidak ada suara di dunia yang tidak didengar seseorang,” jawab Haru pelan. “Bahkan diam sekalipun.”

Ia menuangkan teh, duduk berlutut di depannya. “Aku bekerja di sini sekarang,” katanya. “Banyak tamu dari kastil Sunpu datang. Kadang mereka menyebut nama-nama besar: Honda Tadakatsu, Ii Naomasa, para tangan kanan Shogun.”

Nama itu menusuk seperti bilah kecil yang diselipkan di antara tulang rusuk. Tadakatsu.

Haru melihat perubahan kecil di bahu Hayato. Ia menunduk lebih dalam. “Kau mengenalnya.”

Hayato menatap permukaan teh yang bergetar di cawan. “Ia adalah orang yang menebas tuanku di Sekigahara. Ia berdiri di atas tubuhnya, menancapkan panji Tokugawa di dada yang masih hangat.”

Ia menarik napas panjang. “Dan kini, dunia menyebutnya ‘pahlawan damai’.”

Haru tidak menjawab seketika. Dari dalam rumah, suara shamisen lain mulai dimainkan—cepat, riang, seolah menertawakan pembicaraan mereka. Setelah beberapa detik, ia berkata, “Hayato… dunia telah berubah. Shogun Ieyasu telah menutup pintu perang. Tidak ada lagi kehormatan di ujung katana, hanya kematian yang sia-sia.”

Hayato tersenyum getir. “Kau berkata seperti seorang biksu.”

“Tidak,” Haru menggeleng pelan. “Aku hanya melihat terlalu banyak pria yang mati dengan nama mulia tapi mata kosong. Kau punya kesempatan untuk hidup, bahkan setelah kehancuran.”

Hayato menatapnya lama, kemudian berkata lirih,

“Kedamaian ini dibangun dari tulang tuanku. Aku hanya ingin menagih harga itu.”

Keheningan jatuh di antara mereka. Dari luar, angin membawa guguran sakura menembus tirai bambu. Kelopak-kelopaknya jatuh ke lantai seperti salju, lembut namun dingin.

Haru memandangi kelopak itu. “Kau tahu arti bunga sakura bagi kami?” tanyanya pelan. “Ia mekar di puncak keindahan, hanya untuk mati esok pagi. Karena itu orang Jepang menyebutnya bunga kehormatan.”

“Dan aku,” jawab Hayato, “telah kehilangan kehormatan bahkan sebelum bunga pertama mekar.”

Haru menunduk, menutup wajahnya dengan kipas. Dalam napasnya terdengar isak kecil yang segera ditelan oleh suara shamisen dari dalam.

Saat itu, seseorang mendekat. Seorang lelaki tua dengan tengai besar di kepala—komusō yang dulu menemaninya di perjalanan. Ia berdiri di ambang pintu, seruling bambu di tangan.

“Hayato,” katanya dengan suara berat. “Angin dari masa lalu mulai meniupmu lagi.”

Hayato tidak menjawab.

Komusō itu melangkah masuk, duduk di sebelahnya. “Aku mendengar namanya—Tadakatsu. Ia kini menjadi penjaga utama di Sunpu, di bawah Shogun. Tapi jangan biarkan amarah menggali kuburmu sendiri.”

Hayato memalingkan wajah. “Jika aku mati menebasnya, itu bunuh diri yang layak.”

“Tidak,” sang komusō menatap lurus ke depan. “Bunuh satu orang, maka seribu roh akan mengikuti. Kau pikir dendammu akan selesai di satu kepala? Tidak. Kau akan menjadi arwah gentayangan di antara roh mereka.”

Hayato menatap tanah. “Mungkin aku sudah gentayangan sejak tuanku mati.”

Komusō itu terdiam lama. Di luar, hujan mulai turun tipis-tipis, menimpa atap bambu dan menyisakan suara seperti langkah hantu di malam sunyi.

Akhirnya, ia berkata, “Aku dulu juga punya nama, Hayato. Aku juga pernah membawa panji perang. Aku meniup shakuhachi bukan karena damai—tapi karena aku tak mampu lagi mendengar jeritan katanaku sendiri.”

Ia berdiri, menatap ke arah jalan yang mulai basah oleh hujan. “Jika kau masih ingin membalas dendam, lakukanlah. Tapi ketahuilah: bahkan setelah darah menetes, bambu ini tetap akan menuntutmu untuk meniup nada berikutnya.”

Komusō itu pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan jejak langkah yang cepat hilang di antara hujan dan kelopak sakura yang berguguran.

Haru menatap Hayato. “Kau masih bisa memilih. Kau bisa berjalan menjauh dari semua ini.”

Hayato berdiri perlahan. “Dan membiarkan namanya hidup, sementara tuanku hilang tanpa batu nisan?”

Haru menatapnya dengan mata yang bergetar. “Kadang keadilan hanya bisa hidup dalam diam.”

Hayato menatap ke luar rumah teh. Di sana, langit malam berwarna abu-abu muda, penuh kelopak sakura yang beterbangan. Ia mengangkat tangan, menangkap satu kelopak, menatapnya lama sebelum membiarkannya terbang lagi.

“Lihatlah, Haru,” katanya perlahan. “Bahkan bunga pun memilih jatuh.”

Ia melangkah pergi, meninggalkan rumah teh tanpa menoleh. Haru berdiri di ambang pintu, menyaksikan bayangannya menjauh, lalu hilang di balik hujan dan cahaya lentera yang redup.

Di kejauhan, suara shakuhachi terdengar lagi—bukan lembut seperti biasa, melainkan berat dan terputus-putus, seperti napas seseorang yang menahan amarah terlalu lama.

Dan malam itu, di kota kecil Suruga, kelopak-kelopak sakura terus berguguran tanpa henti, seperti salju yang lahir dari dendam.

 

Malam turun di Sugura seperti tirai tinta yang menutup langit. Hujan rintik-rintik turun dari atap genting, menimbulkan suara ritmis yang seakan menandai langkah waktu. Di antara kabut dan bau tanah basah, sosok berjubah jerami melangkah pelan, membawa shakuhachi bambu di tangan — seorang komusō, pengembara tanpa nama, wajahnya tersembunyi di balik topi anyaman. Tapi di balik ketenangan itu, di hati orang itu, bara dendam telah lama menyala. Namanya Hayato — mantan samurai klan Kuroda, murid terakhir dari seorang daimyo yang mati di tangan pengkhianat: Tadakatsu.

Ia tahu kabar itu dari rumah teh kecil di tepi jalan Tōkaidō beberapa minggu lalu. Tadakatsu, yang dulu membantai tuannya di malam itu, kini hidup nyaman — diangkat menjadi pejabat kehormatan di bawah Shogun. Kedamaian yang dibangun di atas darah.

Kini Hayato datang untuk menagih harga itu.

Langkahnya berhenti di depan gerbang Sunpu-jō, istana kecil di bawah pengawasan Tokugawa. Lampu-lampu minyak bergetar di tengah hujan. Ia menunduk, pura-pura sebagai pengemis biar lewat penjaga malam, lalu menghilang ke gang sempit di belakang dinding batu. Nafasnya diatur pelan, tiap tarikan seperti doa.

Dalam diam, tangan kanannya meraba gagang katana di bawah jubah. Bilah itu sudah berkarat di pangkalnya, tapi diasah tajam di ujung — seperti tekadnya: tua oleh waktu, tapi masih haus darah.

Ia menyusup lewat lorong belakang, meniti atap rumah kayu, melewati jendela-jendela yang meneteskan cahaya lilin dari perjamuan di dalam. Dari celah itu, ia mendengar suara musik shamisen, tawa pejabat, denting cawan sake.

Dan di sana — di tengah ruangan besar dengan tirai emas — duduk Tadakatsu, kini berpakaian sutra indigo, wajahnya licin, mata sipit tajam seperti dulu. Di sisinya, seorang perempuan berkimono merah lembut memainkan shamisen sambil tersenyum manis.

Haru.

Hayato menahan napas, menyandarkan punggung ke dinding. Matanya bergetar antara amarah dan getir. Namun ia tahu — malam ini bukan untuk mengenang. Malam ini untuk menuntaskan.

Ia menuruni atap, berbaur di antara pelayan yang keluar-masuk. Dalam samaran komusō, tak ada yang memandang dua kali pada pengemis pengelana yang membawa shakuhachi. Ketika pintu ruangan perjamuan terbuka, ia melangkah masuk, menunduk, dan berdiri di sudut.
Tadakatsu mengangkat kepala, melihatnya sejenak. “Ah, pengemis biarawan. Bagaimana kau bisa masuk kesini?” Tanyanya dalam keadaan mabuk “Lupakan... Tiupkan sesuatu, buat malam ini lebih hangat,” katanya dengan tawa serak.

Haru memandang sekilas — matanya melebar. Dalam sekejap, ia tahu siapa di balik topi jerami itu. Tapi wajahnya tetap datar; jari-jarinya hanya bergetar sedikit di senar shamisen.

Hayato mengangkat shakuhachinya. Nafasnya dalam, lalu ia meniup. Nada pertama keluar — rendah, serak, seperti keluhan bumi. Shamisen Haru menjawabnya dengan nada tinggi, bergetar seperti tetes air di atas baja. Suara keduanya berpadu, menciptakan melodi aneh — indah tapi menekan dada, seperti percakapan rahasia dua jiwa yang terpenjara.

Tadakatsu menepuk tangan, tertawa keras.

“Musik yang muram! Apakah semua pengemis seburuk ini dalam membawa kegembiraan?” Ia meneguk sake, lalu meludah. “Aku lebih suka lagu kemenangan. Seperti malam saat klan Kuroda dibakar. Ya, malam itu indah—samurai mereka berlutut dan menangis, seperti tikus di bawah sepatu!”

Haru berhenti memetik. Jemarinya membeku.

Nada terakhir melayang dan mati di udara.

Dalam detik itu, Hayato menunduk. Tangan kirinya menyentuh gagang katana yang tersembunyi dibalik jubahnya. Dunia seakan berhenti — hanya suara hujan di luar dan dengung darah di telinganya.

“Orang seperti kau,” Tadakatsu lanjut, “tidak tahu harga kedamaian. Kadang satu pengkhianatan lebih bernilai dari seribu kesetiaan.”

Satu hembusan napas.

Shakuhachi jatuh ke lantai.

Bunyi kayu pecah.

Kilatan baja muncul dari balik jubah jerami — katana Hayato menebas udara, memantulkan cahaya obor. Tadakatsu terkejut, bangkit, namun telat. Tebasan pertama menggores bahu kirinya, menumpahkan darah ke tatami.

“Hayato!” seru Haru, nyaris tanpa suara.

Tadakatsu menghunus katana pendek dari pinggang. “Jadi kau masih hidup, anjing Kuroda!”
Mereka berhadapan — dua arwah dari masa perang, kini berdiri di dunia damai yang tak menerima mereka lagi.

Pertarungan meledak seperti badai dalam ruangan sempit itu.

Tebasan pertama — clang! — baja bertemu baja.

Tebasan kedua — percikan api, obor bergoyang.

Hujan di luar semakin deras, suaranya bercampur dengan deru napas dan teriakan.

Hayato menekan maju, tekniknya cepat dan kasar, bukan duel kehormatan — ini pembunuhan. Tapi Tadakatsu masih samurai terlatih. Ia berputar, menangkis, memotong arah serangan. Katana mereka menari seperti kilat, tiap hentakan menimbulkan suara tatami yang robek, darah menetes di bilah.

“Tuanku mati karena pengkhianatanmu,” desis Hayato.

“Tuanmu mati karena lemah!” Tadakatsu membalas, menebas dari kanan.

Hayato menunduk, bilah katana musuh lewat di atas kepala, memotong sebagian topi jeraminya. Ia berputar, menebas dari bawah — Tadakatsu menahan dengan suara logam panjang, namun tangannya bergetar.

Tebasan, tangkisan, denting.

Dunia di sekitar mereka menghilang — hanya dua bayangan dalam cahaya obor yang gemetar, dua jiwa yang tersisa dari masa samurai yang sekarat.

Haru berdiri di sudut, shamisen-nya jatuh. Matanya basah — bukan karena ketakutan, tapi karena ia tahu: tak ada kemenangan dalam duel ini.

Hayato melompat mundur, lalu maju lagi.

Ia menebas diagonal — Tadakatsu menahan, tapi Hayato mengganti arah di tengah tebasan, mengunci bilah musuh dengan gerakan jigen-ryū, lalu memutar pergelangan tangan dan — tsskk! — katananya menembus dada Tadakatsu.

Darah menyembur.

Tadakatsu terhuyung, memegangi luka di dadanya.

Matanya menatap Hayato dengan kemarahan bercampur penyesalan.

“Kau… membunuh… kedamaian…”

“Tidak,” jawab Hayato pelan, “aku hanya menebas kehormatan yang palsu.”

Tadakatsu jatuh ke lantai, tubuhnya menabrak meja perjamuan, menumpahkan sake dan darah menjadi satu warna.

Sunyi.

Hanya ada suara hujan.

Dan di tengah tatami yang berlumur darah, Hayato berdiri diam. Nafasnya berat. Matanya kosong — tak ada kepuasan. Dendam yang dipuaskan, tapi tidak menyembuhkan.

Pintu geser terbuka. Suara langkah-langkah tergesa di luar — penjaga mendekat. Haru berlari menghampiri, menarik tangan Hayato.

“Cepat! Mereka akan datang!”

“Pergilah, Haru. Aku sudah selesai di dunia ini.”

“Tidak! Kalau kau mati sekarang, semua sia-sia!”

Ia meraih shakuhachi yang pecah, meletakkannya di tangan Hayato. “Pergilah ke arah utara, lewat taman belakang. Aku akan menahan mereka.”

Hayato memandangnya — mata dua orang yang saling mengenal tapi tak punya masa depan.

Ia mengangguk pelan, lalu melangkah ke pintu belakang.

Ketika para penjaga berlari masuk, Haru berteriak — “Tuan Tadakatsu! Dia dibunuh! Aku tak tahu siapa penyerangnya! Dia lari ke arah selatan!”

Suara itu menggema di koridor. Para samurai segera berlari ke arah yang ditunjuknya.

Sementara di luar, di tengah taman yang diselimuti hujan, Hayato melangkah di bawah pohon sakura. Bunga-bunga yang belum sempat gugur jatuh perlahan, menempel di darah di bahunya. Ia berjalan dalam diam, melewati gerbang belakang yang terbuka setengah.

Shakuhachi di tangannya gemetar. Ia meniup satu nada — pelan, sendu, seperti ratapan bumi. Nada itu terbang bersama hujan, hilang di langit yang kelam.

Di dalam ruangan, Haru berdiri di sisi jenazah Tadakatsu. Penjaga-penjaga berlarian, menjeritkan perintah. Ia menatap darah di tatami — jejak yang akan segera disapu pagi.

“Hayato…” bisiknya.

Matanya menatap jendela tempat sakura berjatuhan. “Kau baru saja menebas kehormatanmu sendiri.”

Angin malam masuk, meniupkan sisa lilin, memadamkan cahaya terakhir.

Malam itu, di Suraga bahkan hingga ke Edo, kabar beredar: seorang komusō membunuh pejabat tinggi di tengah perjamuan. Dunia samurai berguncang. Shogun memerintahkan pengejaran. Nama Hayato menjadi kutukan yang dibisikkan di jalanan, dan Haru menghilang dari daftar geisha istana.

Tapi bagi mereka berdua, malam itu bukan sekadar darah — melainkan awal dari kutukan panjang: antara kehormatan dan dosa yang tak dapat ditebus.

Dan di jalan Tōkaidō yang jauh dari hiruk pikuk Edo, suara shakuhachi kadang terdengar di antara kabut pagi. Lagu tanpa nama, lagu seorang pengembara yang kehilangan arah antara penebusan dan pembalasan. Lagu yang selalu berakhir di satu nada — seolah bumi sendiri menghela napas dan berkata:

“Bunuh satu orang, maka seribu roh akan mengikuti.”

 

Fajar di Kamakura datang seperti bisikan — lembut, nyaris tak terdengar. Kabut turun dari pegunungan, menyelubungi hutan bambu di sekitar Kuil Hōkoku-ji. Daun-daun basah bergoyang pelan, dan setiap hembusan angin menimbulkan suara seperti seruling yang ditiup oleh tangan tak terlihat.

Di jalan batu menuju kuil, langkah-langkah seorang pengembara terdengar samar. Jubah dan jeraminya basah oleh embun, wajahnya letih dan penuh bayangan. Di punggungnya tergantung katana yang kini tak lagi berkilau — hanya sisa karat dan darah yang telah mengering.

Hayato.

Sejak malam, ia menjadi buronan. Setiap kota menutup pintu baginya; setiap penjaga memiliki lukisan wajahnya di papan pengumuman. Tapi yang lebih berat dari kejaran manusia adalah kejaran batin — bayangan Tadakatsu yang datang di setiap tidur, dan suara shamisen Haru yang masih terngiang di telinga.

Kini, ia mencari tempat untuk bersembunyi, atau mungkin tempat untuk mengakhiri segalanya.

Gerbang kayu kuil berdiri di ujung jalan berbatu, sederhana tapi megah dalam kesunyian. Di atasnya, daun maple berguguran pelan. Hayato berhenti, menatap papan bertuliskan kaligrafi tua:
“Kuil Hōkoku-ji — Jalan menuju kekosongan sejati.”

Ia melangkah masuk.

Di halaman, seorang biksu tua sedang menyapu dedaunan. Wajahnya dipenuhi keriput, tapi sorot matanya jernih seperti permukaan kolam di musim semi. Ia menatap Hayato tanpa terkejut, seolah sudah menunggu kedatangannya sejak lama.

“Angin membawa bau darah,” katanya pelan. “Dan langkahmu berat seperti orang yang menanggung roh.”

Hayato menunduk. “Aku hanya mencari tempat untuk beristirahat.”

“Tak ada istirahat bagi orang yang masih membawa katana,” jawab sang biksu. “Tapi masuklah.

Di sini, bahkan bayangan bisa belajar diam.”

Kuil itu sederhana: ruang meditasi dari papan kayu, altar kecil dengan patung Buddha yang tersenyum samar, dan suara air mengalir dari pancuran batu di luar. Di kejauhan, hutan bambu bergoyang seperti lautan hijau.

Hayato duduk di serambi, menatap kabut yang perlahan menipis.

“Dunia luar begitu bising,” katanya lirih.

“Aku lupa seperti apa bunyi sunyi.”

Biksu tua duduk di sampingnya, membawa secawan teh hijau.

“Sunyi bukan tanpa bunyi,” ujarnya.

“Sunyi adalah ketika bunyi tak lagi menyentuh batinmu.”

Hayato menatap tangannya.

“Aku telah menumpahkan darah. Aku telah melanggar sumpah komusō. Aku membunuh bukan demi kebenaran, tapi demi bayangan masa lalu.”

Biksu itu menyesap teh, diam sejenak.

“Kau datang bukan untuk menyesal, tapi untuk dimengerti. Katakan, untuk apa kau meniup serulingmu di malam itu?”

Hayato memejam mata.

“Untuk menghapus dosa… mungkin. Atau menenggelamkan jeritan orang yang kubunuh.”
Biksu itu menatapnya lama, lalu berkata pelan,

“Mungkin keduanya adalah hal yang sama.”

Hari berganti. Hayato membantu biksu-biksu muda menimba air, menebang bambu, dan menyalakan lentera saat malam turun. Ia tak lagi menyentuh katananya. Ia menggantungkan shakuhachi yang patah di dinding kuil, seperti tulang masa lalu yang tak ingin dipelihara.

Namun di malam-malam tertentu, saat angin bertiup dari arah selatan, ia mendengar suara samar — shamisen Haru, dimainkan jauh di kejauhan. Dan bersama melodi itu, bayangan Tadakatsu muncul di pikirannya, menatapnya tanpa kata, menanyakan makna pembalasan.

Dalam mimpinya, Hayato sering melihat darah yang berubah menjadi bunga sakura, menutupi seluruh Edo dengan kelopak putih. Tapi setiap kali ia mencoba memetik satu bunga, tangannya berubah menjadi baja — katana yang tak bisa berhenti menebas.

Ia terbangun berkeringat, dan selalu mendapati biksu tua itu duduk di serambi, bermeditasi dalam cahaya bulan.

Suatu malam, Hayato menghampirinya.

“Sensei,” katanya, “aku membunuh karena aku percaya dunia membutuhkan keadilan. Tapi setelah darah tertumpah, aku hanya menemukan kehampaan. Apakah itu berarti dunia memang tak membutuhkan keadilan?”

Biksu tua membuka mata. “Keadilan manusia hanyalah bayangan dari dendam yang diberi nama indah. Kau menyebutnya benar, tapi hati menyebutnya haus. Keadilan sejati tak menuntut korban — hanya pemahaman.”

Hayato terdiam. Angin melewati bambu, membuat bunyi seruling tanpa pemain.

“Lalu apa makna kehormatan bagi seorang samurai yang telah kehilangan segalanya?”

Biksu itu tersenyum samar. “Kehormatan sejati bukan yang dibela dengan katana, melainkan yang tetap hidup saat katana telah diletakkan.”

Beberapa hari kemudian, hujan turun. Bambu-bambu menunduk, dan udara beraroma tanah basah. Hayato duduk sendirian di aula meditasi. Di depannya, lilin kecil bergetar, cahayanya menari di permukaan dinding kayu.

Ia mengambil kuas, mencelupkannya ke tinta, dan menulis perlahan di papan bambu kuil — tanka terakhirnya:

Dalam bambu sunyi,

bayanganku lenyap perlahan—

suara tak berakhir,

meski napas berhenti nanti,

katana dan seruling menyatu.

Ia menatap tulisan itu lama. Lalu menunduk, dan tersenyum kecil — senyum yang tak pernah ia rasakan bahkan saat memenangkan duel. Ia mengangkat shakuhachi yang patah, menempelkannya ke bibir, dan meniup.

Nada yang keluar nyaris tak terdengar, hanya hembusan udara yang mengguncang debu di sekitar. Tapi dalam sunyi itu, sesuatu di dalam dirinya ikut runtuh — dinding amarah, dendam, dan kebencian yang selama ini menopang hidupnya.

Ketika fajar datang, Hayato berjalan ke hutan bambu di belakang kuil. Ia berhenti di antara batang-batang hijau yang menjulang tinggi, tempat cahaya matahari menembus seperti katana lembut.

Di sana ia berlutut.

Ia meletakkan katananya di tanah, menatap pantulan wajahnya di bilah baja yang telah berkarat.
Wajah yang bukan lagi samurai, bukan lagi pembunuh — hanya manusia yang letih.

“Sensei,” bisiknya, “aku telah menebas kehormatan palsu. Kini aku ingin menebas egoku sendiri.”

Ia menutup mata. Angin berhembus pelan, membawa suara seruling dari kejauhan — entah dari siapa. Mungkin dari roh-roh yang telah dimaafkan. Atau mungkin dari dirinya sendiri, yang akhirnya mampu meniup shakuhachi dengan hati kosong.

Beberapa minggu kemudian, biksu tua menemukan katana Hayato tertancap di tanah bambu, shakuhachi patahnya bersandar di samping, dan di atasnya selembar kain putih berisi tanka yang sama. Tak ada tubuh, hanya jejak kaki menuju ke arah hutan yang lebih dalam, lalu lenyap di kabut. Biksu itu tersenyum kecil.

“Dia akhirnya memahami Zen,” gumamnya. “Karena hanya yang benar-benar hilang yang bisa disebut damai.”

Sejak hari itu, di Kuil Hōkoku-ji, setiap kali angin bertiup di antara bambu, terdengar nada lembut seperti shakuhachi — kadang tinggi, kadang lirih.

Para biksu muda menyebutnya “Napas dari Hayato.”

Mereka percaya, itu adalah roh seorang samurai yang akhirnya meletakkan katananya dan menemukan jalan pulang — bukan ke rumah, tapi ke dirinya sendiri.

 

Senja turun di atas jalan Tōkaidō, membentang panjang di antara hamparan sawah dan laut yang berkilau merah tembaga. Langit berganti warna perlahan—dari jingga lembut menjadi ungu kehitaman, seperti tinta yang menetes di kertas sutra. Angin dari Teluk Suruga bertiup pelan, membawa aroma garam, bambu, dan debu perjalanan.

Di kejauhan, seorang pengembara berjalan sendirian.

Jubahnya compang-camping, wajahnya terlindung oleh tengai—keranjang anyaman para komusō. Di pinggangnya tak tergantung katana, hanya sepotong shakuhachi dari bambu yang kusam warnanya.

Ia melangkah perlahan, setiap langkah disertai napas berat yang terdengar seperti desah orang yang sudah lama berdamai dengan dunia.

Hayato.

Namanya kini hanya hidup dalam bisik-bisik penjaga pos dan laporan pasukan shogun:

“Samurai pembunuh… komusō berwajah bayangan… pengkhianat yang melanggar kedamaian Ieyasu-sama.”

Namun bagi dirinya, semua nama itu sudah mati sejak malam darah di Sugura.

Angin sore menyapu debu dari jalan, membawa bayangan burung camar yang melintas di langit. Di tepi jalan, daun kering berputar pelan seperti arwah menari. Hayato berhenti di bawah pohon pinus tua, menatap cakrawala yang mulai memudar.

Ia mendengar suara samar—mungkin hanya gema dari masa lalu—suara shamisen, lembut dan sendu. Ia menutup mata. Dalam gelap, wajah Haru muncul: seulas senyum yang tak pernah ia pahami, mata yang selalu menyimpan duka lebih dalam dari laut.

“Dalam hidup yang sunyi,” gumamnya, “aku menemukan musik yang lebih keras dari perang.”

Ia menurunkan tengai-nya perlahan.

Wajahnya pucat, rambutnya sudah mulai dipenuhi uban halus. Tapi di matanya, tak ada lagi kebencian—hanya ketenangan yang aneh, seperti orang yang telah melewati neraka dan menemukan maknanya.

Suara kaki kuda memecah kesunyian.

Dari ujung jalan, barisan prajurit shogun muncul: baju zirah berkilau, tombak di tangan, panji Tokugawa berkibar di angin senja. Mereka berhenti beberapa langkah di hadapan Hayato.

“Komusō bernama Hayato Kuroda!” seru pemimpin mereka. “Atas perintah Shogun, kau dituduh menumpahkan darah seorang pejabat tinggi. Menyerahlah, dan mungkin jiwamu akan diampuni.”

Hayato menatap mereka diam.

Ia menurunkan shakuhachi dari pinggangnya, memegangnya dengan kedua tangan seolah itu katana lama yang telah dijernihkan.

“Aku sudah menyerah,” katanya perlahan. “Bukan pada kalian, tapi pada diriku sendiri.”

Prajurit itu maju satu langkah, menghunus katananya. “Ada kata-kata terakhir?”

Hayato mengangguk. “Hanya satu—dengarkan.”

Ia menutup mata dan meniup shakuhachi-nya.

Nada pertama keluar lembut, nyaris tak terdengar. Tapi udara di sekitar seolah berhenti bergetar. Burung-burung yang hinggap di pohon pinus mendadak diam. Nada itu bergerak naik turun seperti ombak—kadang lembut seperti doa, kadang tajam seperti pisau di leher.

Suara bambu itu bukan lagu, tapi perjalanan: Tentang perang yang sia-sia, tentang tuan yang gugur di Sekigahara, tentang dendam yang berubah menjadi aib, dan tentang sepotong cinta yang lahir di antara darah dan musik.

Para prajurit terpaku. Bahkan kuda-kuda menundukkan kepala. Angin berhenti. Senja menahan napasnya.

Di tengah kesunyian itu, Hayato menurunkan serulingnya. Ia tersenyum kecil—senyum yang mengandung segala kepasrahan dan pembebasan. Lalu ia duduk bersila di tanah, membuka jubahnya perlahan.

Dari pinggangnya, ia mengeluarkan tantō—pisau pendek yang dulu ia sembunyikan bukan untuk bertarung, melainkan untuk menepati janji terakhir seorang samurai. Bilahnya dingin di bawah cahaya senja, berkilau seperti embun di ujung daun bambu.

Hayato menatap langit. “Dalam sunyi,” bisiknya, “kehormatan lahir kembali.”

Lalu dengan gerakan tenang dan pasti, ia menusukkan pisau itu ke perutnya. Nafasnya tertahan, tapi matanya tetap terbuka. Darah mengalir, menodai shakuhachi di pangkuannya. Sementara di kejauhan, terdengar angin berdesir — membawa gema nada yang baru saja ia tiup, melayang perlahan di udara sore.

Para prajurit tak sempat bergerak. Mereka hanya menatap diam, terpaku oleh keheningan yang lebih mengerikan daripada jeritan perang. Pemimpin mereka menunduk, menutup helmnya, dan berbisik, “Semoga arwahmu menemukan jalannya, samurai.”

Beberapa saat kemudian, derap langkah kaki kecil terdengar tergesa di ujung jalan. Siluet seorang perempuan muncul dari arah timur, kain kimononya berkibar dalam angin. Di tangannya, ia membawa shamisen. Nafasnya terengah, wajahnya penuh debu dan air mata.

Haru.

Ia menunggu hingga langkah para prajurit menjauh, menyisakan satu orang penjaga di sisi jasad Hayato. Angin senja membawa debu di antara bambu, menutup jejak darah yang mulai mengering. Dengan wajah tenang namun mata bergetar, Haru mendekat — seolah seorang perempuan yang hanya ingin memberi penghormatan terakhir.

“Tolong... Tuanku di kedai teh... Dia diserang bandit gunung,” katanya tergesa-gesa, suaranya setipis asap dupa.

“Ia memerlukan bantuan segera.”

Prajurit itu ragu, menatap tengai yang tergeletak di tanah, lalu kembali pada wajah Haru yang tampak tulus dan letih.

“Jika kau mau, aku akan menjaga jasad ini sampai kau kembali,” bisiknya.

Dan dalam kebodohan yang lahir dari rasa iba, sang prajurit pun meminta petunjuk jalan dan berlari meninggalkannya.

Ia berhenti ketika melihat tubuh itu di bawah pohon pinus. Shakuhachi tergeletak di tanah, berlumur darah. Ia berlutut, memegang seruling itu, menatap wajah Hayato yang kini tampak damai — seolah sedang tertidur di tengah perjalanan panjang.

“Hayato…” bisiknya.

Air matanya jatuh di permukaan shakuhachi, bercampur dengan darah yang mulai mengering.

Suara angin bertiup, membawa dedaunan kering menari di sekitar mereka. Haru menatap langit senja yang kini berubah menjadi keemasan, lalu menutup mata Hayato dengan ujung selendangnya.

“Dalam hidupmu, kau menebas bayangan,” katanya lirih. “Dalam matimu, kau menyalakan cahaya.”

Ia menatap jalan panjang Tōkaidō yang membentang ke arah Edo. Di sana, asap masih mengepul dari kota yang penuh intrik dan ambisi. Ia duduk di samping tubuh Hayato, memeluk shakuhachi itu ke dadanya, lalu mulai memainkan shamisen-nya perlahan. Nada yang keluar sederhana, seperti lagu pengantar tidur. Tapi di antara setiap petikan senar, ada gema shakuhachi yang samar—entah dari ingatan, entah dari roh Hayato yang belum jauh pergi.

Malam turun perlahan. Cahaya terakhir matahari terpantul di darah di tanah, mengubahnya menjadi warna tembaga yang hangat. Para prajurit berdiri jauh, menundukkan kepala; mereka tahu, yang mereka saksikan bukan sekadar kematian, tapi upacara terakhir seorang samurai yang menemukan makna kehormatannya sendiri.

Ketika langit benar-benar gelap, angin bertiup dari arah laut. Ia melewati tubuh Hayato, melalui bambu dan pinus, membawa melodi yang nyaris tak terdengar—sepotong napas dari shakuhachi yang kini diam. Nada itu mengalun perlahan di sepanjang jalan Tōkaidō, menembus rumah teh, kuil, dan pos jaga, sampai hilang di kejauhan yang gemerlap.

Haru menatap ke arah angin itu, dan tersenyum samar di balik air mata.

Ia berbisik pelan, “Dalam sunyi, kehormatan lahir kembali.”

Beberapa hari kemudian, rumor menyebar di antara para pengembara: bahwa di jalan Tōkaidō, saat senja, kadang terdengar suara seruling yang lembut, seperti dihembuskan oleh roh yang sudah damai. Tak ada yang tahu dari mana datangnya, tapi mereka yang mendengarnya berkata — suara itu membuat hati terasa ringan, seolah beban hidup ikut menguap bersama angin.

Mereka menyebutnya “Angin Hayato.”


Share:

Claire de Beaumont

 


Lyon, Perancis 1827.

Musim gugur telah tiba di Lyon dengan cara yang hanya dikenal oleh kota itu sendiri — lembut, melankolis, dan penuh aroma kastanye panggang. Jalan-jalan berbatu di sekitar distrik Fourvière mulai basah oleh embun malam, dan dedaunan dari pohon-pohon platan jatuh satu per satu seperti serpihan emas yang lelah menahan waktu.

Di antara semua rumah besar di distrik itu, tak ada yang lebih ramai malam itu selain kediaman keluarga Beaumont, bangsawan tua yang hidup dari kemegahan masa lalu. Dinding marmer dan pilar klasiknya diterangi ratusan lilin kristal. Malam itu mereka mengadakan salon musique et peinture — sebuah perayaan seni, sekaligus cara Madame de Beaumont mempertahankan reputasi keluarganya di tengah zaman yang mulai berubah.

Kuda-kuda berhenti satu per satu di depan gerbang, dan para tamu turun dengan gaun sutra serta mantel panjang. Para pria mencium tangan wanita, membungkuk dengan sopan, sementara pelayan berlarian membawa nampan perak berisi anggur Bordeaux.

Di ruangan besar yang menghadap taman belakang, deretan lukisan baru dipajang di dinding. Sebagian adalah karya para pelukis muda yang baru pulang dari Paris — mereka berharap akan diperhatikan oleh patron kaya atau setidaknya oleh seorang kolektor yang berselera. Salah satu dari mereka adalah Adrien Marchand.

Adrien berdiri agak di pinggir ruangan, tubuhnya tegak tapi canggung, mengenakan jas hitam sederhana yang sedikit usang di bagian kerah. Ia bukan bangsawan, bukan pula pelukis terkenal; hanya asisten dari seorang maestro bernama Jules Moreau yang malam itu tidak hadir karena sakit. Adrien ditugaskan membawa dua lukisan gurunya, namun atas izin sang maestro, ia juga membawa satu karyanya sendiri — “Femme au Pont,” lukisan seorang perempuan muda berdiri di sisi sungai dengan latar jembatan sambil memandangi sungai yang berkilau dalam cahaya senja.

Lukisan itu tak sebesar karya para seniman lain, tapi entah mengapa memancarkan kehangatan yang berbeda — ada sesuatu yang lembut, hampir seperti doa yang tak diucapkan.

Adrien tidak banyak bicara malam itu; ia lebih banyak mengamati. Ia melihat dunia yang bukan miliknya: wanita-wanita dengan kalung mutiara, tawa ringan yang menyembunyikan kehampaan, dan percakapan-percakapan yang berputar di sekitar nama-nama besar Paris. Ia merasa seperti penonton di tepi panggung kehidupan yang tak pernah mengundangnya naik.

Namun di antara gemuruh musik waltz dan aroma parfum bunga mawar, pandangannya tertumbuk pada satu sosok — Claire de Beaumont, putri tuan rumah.

Claire mengenakan gaun berwarna biru pucat yang memantulkan cahaya lilin seperti cahaya bulan di air. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi pita putih kecil. Ia berdiri di antara para tamu, menahan senyum sopan yang telah ia pelajari sejak kecil, namun matanya... matanya tampak mencari sesuatu yang lain, sesuatu di luar pesta dan keanggunan.

Dan pada momen yang tak terduga, tatapan mereka bertemu.

Adrien menunduk cepat-cepat, merasa tak pantas menatap terlalu lama. Tapi Claire telah memperhatikannya. Ada sesuatu dalam cara pria itu memandang dunia — bukan tatapan seorang pengagum, melainkan seorang pengamat yang diam-diam memahami segalanya. Ia merasa seperti sedang diperhatikan bukan karena keindahan gaunnya, tapi karena dirinya sendiri.

Beberapa saat kemudian, Claire beralasan kepada ibunya untuk “melihat karya seni lebih dekat,” dan berjalan perlahan ke arah dinding tempat lukisan Adrien tergantung. Ia berhenti di depan “Femme au Pont.”

Lukisan itu tampak sederhana, tapi setiap sapuan kuasnya mengandung keheningan yang mendalam. Seakan sang pelukis tahu bagaimana mengubah cahaya sore menjadi emosi manusia. Claire tak bisa menjelaskan perasaan itu — semacam keharuan halus, seperti ketika seseorang mendengar melodi yang seolah pernah didengar di kehidupan lain.

“Lukisan itu bukan karya Monsieur Moreau,” katanya pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

Adrien, yang berdiri tak jauh di belakang, menjawab dengan gugup, “Tidak, Nona. Itu karya saya sendiri.”

Claire berbalik. Untuk pertama kalinya, mereka saling menatap dari jarak yang begitu dekat.

“C’est magnifique…” bisiknya. “Wanita itu — siapa dia?”

Adrien menelan ludah sebelum menjawab, “Seseorang yang tidak pernah benar-benar ada. Tapi saya melukisnya karena saya merasa... pernah menunggu seseorang di sana.”

Claire menunduk, tersenyum samar. “Mungkin setiap perempuan pernah menunggu di dekat jembatan seperti itu, entah siapa yang akan datang.” Lalu menatap dalam Adrien “Lalu siapa namamu?”

“Adrien... Marchand.” jawab Adrien dengan gugup.

Mereka berbicara hanya sebentar, tapi kata-kata mereka terasa seperti percakapan yang sudah lama tertunda. Tak ada godaan murahan atau basa-basi pesta; hanya dua jiwa yang kebetulan saling mengenali dalam keheningan yang ramai.

Adrien tidak tahu harus berkata apa. Ia ingin bertanya siapa gadis ini, tapi suara musik waltz yang kembali bergema membuatnya kehilangan nyali. Claire hendak kembali ke kelompok tamunya, tapi sebelum pergi ia menatap lukisan itu sekali lagi, seolah menyimpannya dalam hati.

“Teruslah melukis,” katanya. “Dunia terlalu sering lupa pada keindahan yang tenang.”

Adrien hanya sempat membungkuk, dan Claire pun berlalu.

Namun sesuatu telah berubah di dalam dirinya — seolah ruangan itu kini terasa lebih terang, lebih hidup, lebih manusiawi. Adrien kemudian mengetahui siapa gadis yang sempat berbicara dengannya. Ketika ia melihat sebuah lukisan yang begitu mirip dengan wajah Claire — lembut, terang, dan anggun — ia pun bertanya pada seorang pelayan. Dengan nada penuh hormat, pelayan itu menjawab bahwa perempuan dalam lukisan tersebut tak lain adalah Mademoiselle Claire de Beaumont, putri Monsieur Étienne de Beaumont.

Malam makin larut. Para tamu berdansa, anggur mengalir, tawa bergema. Tapi Adrien tak mampu menyingkirkan wajah Claire dari pikirannya. Ia membereskan beberapa bingkai kosong di ruang belakang, namun matanya terus melirik ke arah pintu, berharap gadis itu muncul lagi.

Ketika pesta mulai usai, Adrien membantu pelayan menurunkan beberapa lukisan. Ia berjalan ke ruang galeri untuk mengambil kanvasnya — dan di situlah ia menemukannya.

Di antara kain penutup dan pigura, tergeletak sapu tangan sutra putih yang terlipat rapi. Di sudutnya terjahit huruf kecil dengan benang biru: C. de B.

Ia menatapnya lama. Aroma halus parfum mawar tercium dari kain itu, lembut tapi nyata. Adrien memegangnya seolah memegang sesuatu yang lebih rapuh dari kaca — tanda kecil, tapi cukup untuk membuat malam itu abadi dalam ingatannya.

Ia menatap lukisannya sekali lagi. Perempuan di pinggir jembatan itu kini tampak berbeda — seolah bayangan Claire telah masuk ke dalam setiap garis dan warna.

Ketika Adrien keluar dari rumah keluarga Beaumont, langit Lyon telah memucat oleh embun dini hari. Cahaya lilin dari jendela terakhir yang masih menyala memantulkan sinar di trotoar basah. Ia berjalan perlahan menyusuri jalan berbatu, menggenggam sapu tangan itu di sakunya.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok, atau apakah ia akan melihat gadis itu lagi. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bahwa dunia — betapapun keras dan tidak adil — masih menyisakan ruang kecil untuk keajaiban.

Dan di balik jendela kamar atas rumah itu, Claire berdiri di dekat tirai, menatap ke luar. Ia melihat sosok lelaki berpakaian gelap berjalan menjauh, membawa sesuatu dari malam itu yang tak akan pernah bisa ia ambil kembali.

Ia memegang dadanya pelan, menyadari getaran lembut yang belum pernah ia rasakan. Entah mengapa, lukisan itu, percakapan singkat itu, dan pandangan mata yang tak disengaja telah mengguncang sesuatu dalam dirinya — sesuatu yang selama ini dikurung oleh aturan, silsilah, dan nama keluarga.

“Adrien,” ia mengucap nama itu perlahan — tanpa menyadari betapa nama itu akan menjadi takdirnya.

Musim gugur di Lyon terus bergulir. Daun-daun jatuh di halaman rumah Beaumont seperti surat-surat cinta yang tak pernah terkirim. Tapi di dalam hati dua orang itu, telah tumbuh benih kecil yang tak dapat dipadamkan oleh jarak, waktu, ataupun status sosial.

Sebuah cinta yang lahir dari kebetulan, tapi ditakdirkan menjadi bencana yang indah.

 

Hari-hari setelah pesta itu berjalan lambat, seolah musim gugur menahan napas. Di bengkel kecilnya di distrik Croix-Rousse, Adrien Marchand kembali melukis, namun setiap goresan kuasnya terasa seperti menulis surat kepada seseorang yang tak bisa ia jumpai. Dinding bata bengkel itu dingin dan lembap, tapi di dalam kepalanya masih berputar bayangan gaun biru muda dan aroma mawar dari malam di rumah Beaumont.

Ia tak berani berharap banyak. Claire de Beaumont berasal dari dunia lain — dunia di mana nama keluarga lebih berat dari perasaan, dan cinta tak pernah punya hak bicara. Tapi keheningan itu justru membakar hatinya lebih dalam.

Suatu sore, Adrien menulis sebuah surat.

Tanpa sapaan resmi, tanpa nama. Hanya kalimat pertama yang bergetar di kertas lusuh:

“Kepada perempuan yang berdiri di pinggir jembatan hatiku,

bila cahaya sore menyentuh air,

aku berpikir tentang pandangan matamu di antara lilin-lilin yang padam.”

Ia menulis bukan seperti pria yang berharap jawaban, melainkan seperti penyair yang berdoa. Surat itu dilipat dengan hati-hati dan diselipkannya dalam amplop cokelat kecil. Tapi bagaimana mengirimnya?

Di kafe kecil dekat bengkel, Adrien memiliki seorang sahabat bernama Henri Duval — seorang pemuda ceria yang bekerja sebagai kurir barang dan kadang suka menulis sajak sendiri meski tak pernah dibaca siapa pun. Ketika Adrien menceritakan malam di salon dan memperlihatkan sapu tangan dengan huruf C. de B., Henri menatapnya dengan campuran takjub dan prihatin.

“Adrien, kau jatuh cinta pada bintang yang tak bisa kau sentuh,” katanya, menyalakan rokok tipis.

“Tapi bukankah cahaya bintang tetap bisa menghangatkan hati kita meski jauh?” jawab Adrien pelan.

Henri tertawa lirih. “Baiklah, filsuf miskin. Aku tahu satu pelayan yang bekerja di rumah Beaumont. Mungkin—hanya mungkin—ia bisa menjadi jembatan antara langit dan tanah.”

Dan begitulah cara surat pertama itu sampai ke tangan Claire.

Di rumah besar keluarga Beaumont, hari-hari Claire terasa seperti tarian tanpa musik. Ayahnya, Monsieur Étienne de Beaumont, sibuk membicarakan politik dan keuangan, sementara ibunya mengatur daftar undangan untuk pesta berikutnya. Claire lebih banyak menghabiskan waktu di taman, membaca atau menulis di bangku marmer dekat kolam kecil yang dingin.

Ketika pelayan kepercayaannya, Jeanne, menyelipkan amplop tanpa nama di antara buku-buku puisinya, Claire sempat tertegun. Ia membuka perlahan, dan aroma tinta yang lembap menyergapnya seperti angin dari dunia lain.

Surat itu ringkas tapi indah. Setiap kata terasa seperti lukisan yang hidup — lembut, tapi penuh kerinduan yang berani. Ia membaca berulang kali, lalu menyimpannya di antara halaman Les Méditations Poétiques karya Lamartine.

Malamnya, Claire menulis balasan. Ia tak berani menyebut nama, hanya menulis puisi:

“Jika hatimu adalah sungai,

biarkan aku menjadi daun yang hanyut di atasnya.

Bila dunia melarangku menyeberang,

biarlah air membawaku padamu diam-diam.”

Ia menutup surat itu dengan bunga kering — mawar kecil dari taman belakang, simbol rahasia antara dua dunia. Jeanne, pelayan setia itu, menjadi kurir cinta pertama mereka, tanpa sepatah pun pertanyaan. Tapi di matanya mulai tumbuh kekhawatiran, sebab ia tahu rumah besar itu menyimpan mata dan telinga yang tak bisa diam.

Beberapa minggu berlalu. Surat-surat pun bersilang antara Croix-Rousse dan distrik Fourvière, melewati tangan Henri dan Jeanne, seperti doa yang menembus tembok status sosial. Adrien menulis tentang langit, tentang debu bengkel yang terasa indah bila membayangkan wajah Claire. Claire menulis tentang kesepian di antara pesta, tentang gaun-gaun indah yang tak bisa menghangatkan hati.

Mereka berdua hidup dalam dunia yang sama sekali berbeda, namun huruf-huruf kecil itu membuat jarak seolah hilang.

Suatu hari, dalam surat keempatnya, Adrien menulis:

“Bila lukisan bisa menghapus batas, aku akan melukis jembatan yang menghubungkan dua dunia kita — dan kita berdiri di tengahnya, menolak semua nama dan uang.”

Balasan Claire datang tiga hari kemudian:

“Aku tak tahu bagaimana dunia memandangmu, Adrien. Tapi bagiku, setiap sapuan kuasmu adalah doa yang lebih jujur dari seribu doa yang kulafalkan di kapel rumah kami.”

Akhirnya, pada suatu sore mendung, mereka berani mengambil langkah yang lebih gila daripada menulis surat: bertemu diam-diam.

Jeanne mengatur pertemuan itu di taman kecil di dekat Gereja Saint-Jean, di kaki bukit Fourvière. Tempat itu tenang, hanya terdengar lonceng gereja dan suara burung merpati. Adrien datang lebih dulu, membawa buku sketsa dan pensil arang.

Claire tiba dengan kerudung panjang dan mantel sederhana agar tak dikenali. Saat langkah kakinya terdengar di antara batu-batu basah, Adrien menatapnya — dan untuk sesaat, waktu berhenti.

Tak ada kata pertama, hanya senyum yang menghapus segala ketakutan.

Mereka duduk di bangku taman yang sepi. Adrien mulai menggambar garis wajahnya perlahan, dengan tangan gemetar tapi mata penuh cahaya. Claire menatap dengan rasa takjub; belum pernah ia merasa dilihat dengan cara seperti itu — seolah seluruh jiwanya ditransfer ke kertas lewat sebatang arang.

“Bagaimana kau bisa menggambar dengan begitu lembut?” tanya Claire.

“Karena aku takut membuat garis yang menyakitimu,” jawab Adrien.

Claire tertawa pelan, lalu membuka buku puisinya. Ia membacakan bait Ronsard dengan suara lembut, nyaris seperti nyanyian:

“Quand vous serez bien vieille, au soir, à la chandelle,

assise auprès du feu, dévidant et filant,

direz, chantant mes vers, en vous émerveillant :

Ronsard me célébrait du temps que j'étais belle…”

Adrien terdiam. “Kau membaca seolah waktu berhenti,” katanya.

“Karena aku ingin berhenti di sini,” bisik Claire. “Hanya di sini.”

Mereka berbicara lama: tentang lukisan, tentang puisi, tentang dunia yang tak pernah mau mendengar suara hati mereka. Kadang mereka hanya diam, mendengarkan lonceng gereja berdentang seperti penanda waktu yang sia-sia.

Sebelum berpisah, Claire mengambil tangan Adrien. “Janji padaku,” katanya lirih. “Bahwa cinta kita akan melampaui nama dan uang. Bahwa bahkan jika dunia menolak kita, kita tetap akan menjadi diri kita sendiri.”

Adrien menggenggam tangannya erat. “Aku berjanji. Sampai nafas terakhir.”

Hari-hari berikutnya, Lyon terasa lebih indah daripada sebelumnya. Adrien melukis lebih giat, seolah setiap kanvas adalah surat untuk Claire. Di bengkelnya yang sederhana, kini selalu ada bunga kering di atas meja — pemberian terakhir dari pertemuan mereka.

Namun, cinta yang tumbuh di bawah bayangan selalu menarik perhatian. Jeanne mulai resah; ia tahu betapa tajamnya lidah para pelayan lain, dan betapa cepatnya gosip bisa sampai ke telinga Madame de Beaumont.

Suatu sore, ketika Claire sedang menulis surat di kamarnya, ibunya masuk tanpa mengetuk. Ia menatap selembar kertas dengan tulisan puitis yang belum sempat disembunyikan.

“Dari siapa surat itu, Claire?” tanyanya dengan nada datar tapi dingin.

Claire terdiam. Tangan kecilnya gemetar, namun ia mencoba tersenyum. “Puisi… hanya puisi yang aku tulis.”

Madame de Beaumont mengamati sejenak, lalu menunduk mengambil amplop kosong di meja. Tidak ada nama, tapi aroma tinta yang asing membuatnya curiga. Ia tak berkata apa-apa, hanya berbalik dengan wajah kaku.

Setelah pintu tertutup, Claire jatuh terduduk. Ia tahu, masa tenang mereka mungkin segera berakhir.

Malam itu, di Croix-Rousse, Adrien menunggu surat yang tak kunjung datang. Henri datang membawa kabar samar — Jeanne tampak ketakutan, dan rumah Beaumont mulai diawasi oleh kepala pelayan. Adrien hanya duduk di dekat jendela bengkel, menatap langit Lyon yang mulai berawan.

Ia teringat janjinya di taman Saint-Jean.

“Cinta kita akan melampaui nama dan uang.”

Tapi apakah cinta juga bisa melampaui ketakutan?

Ia menulis satu surat terakhir malam itu — surat yang tak akan segera dikirim:

“Claire,

jika dunia menutup pintu untuk kita, maka biarlah kita membuat jendela di langit. Bila aku tak bisa datang padamu sebagai pelukis, aku akan datang sebagai bayangan dalam lukisanmu.”

Ia menyegel surat itu, mencium sapu tangan sutra yang dulu ditinggalkan Claire di pesta keluarganya, dan menatap api lilin sampai padam.

Di sisi lain kota, Claire berdiri di balkon kamarnya, menatap ke arah Croix-Rousse yang hanya tampak sebagai kilatan lampu jauh. Ia memeluk buku puisinya erat, seolah di sanalah Adrien bersembunyi.

Di bawah langit Lyon yang muram, dua hati yang tak seharusnya bersatu terus berdenyut dalam diam — saling mencari lewat huruf, lewat bayangan, lewat janji yang mulai terasa mustahil.

Dan di antara surat-surat itu, dunia yang memisahkan mereka mulai mendekat dengan perlahan… seperti badai yang tak bisa dihindari.

 

Malam di Lyon menggantungkan dirinya seperti lonceng yang belum sempat berbunyi. Di rumah keluarga Beaumont, udara dipenuhi aroma lavender dan damar dari perapian yang menyala lembut di ruang utama. Namun di balik keharuman itu, tersembunyi ketegangan halus—sebuah bisikan gelap yang mengintai dari balik tirai sutra dan langkah-langkah yang ditahan di koridor panjang.

Élise Lambert, pendamping pribadi Claire sejak masa gadis kecil, mulai memperhatikan sesuatu yang tidak biasa. Ia mengenal setiap denyut kebiasaan nona muda itu—jam minumnya, cara ia menulis di ruang baca, bahkan nada kecil yang sering ia siulkan saat menyulam. Tetapi sejak pesta di musim gugur itu, Élise memperhatikan perubahan halus: Claire sering keluar malam dengan alasan “ingin merasakan udara dingin”, atau berlama-lama menulis sesuatu di atas meja tulisnya, lalu buru-buru menyembunyikannya di lipatan kitab Mazmur milik ibunya.

Awalnya Élise ragu. Namun, pada suatu malam, ketika bulan menggantung redup, ia melihat bayangan Claire dari celah jendela ruang tulis—menangis sambil mencium selembar kertas.

Lalu, suara lembut tapi putus asa terdengar:

“Adrien… mengapa dunia ini begitu sempit bagi kita?”

Nama itu membuat Élise tercekat. Adrien—nama yang dulu sempat ia dengar dibisikkan para pelayan setelah pesta besar keluarga Beaumont. Seorang pelukis muda yang katanya miskin tapi tampan, dengan mata kelabu dan tangan berlumur warna. Élise tahu, di dunia mereka, cinta seperti itu bukan sekadar tabu; ia adalah bencana.

Beberapa hari kemudian, Élise mendekati Étienne Beaumont dengan tatapan berat. Ia tidak menyukai pengkhianatan, namun rasa tanggung jawabnya pada keluarga mengalahkan simpati kecil yang tersisa untuk Claire.

“Monsieur,” katanya dengan suara bergetar lembut, “ada hal yang perlu Anda ketahui tentang putri Anda…”

Étienne menatapnya, dahi berkerut. “Apa maksudmu, Élise?”

“Surat-surat, Tuan… surat dari seorang pemuda bernama Adrien. Ia pelukis, bukan dari kalangan kita.”

Kata “pelukis” diucapkan Élise seperti noda di atas linen putih. Étienne membisu beberapa saat. Ia lalu berjalan ke arah jendela besar yang menghadap kebun, di mana bunga mawar Claire yang sedang mekar tampak bergetar oleh angin. “Adrien siapa?” tanyanya perlahan.

“Saya tidak tahu nama lengkapnya, Tuan. Tapi ia sering terlihat di daerah Croix-Rousse.”

Étienne menggenggam tongkat kayunya lebih erat. “Kau sudah melakukan dengan benar, Élise. Aku akan menyelesaikannya malam ini.”

Adrien sedang menatap lukisan di bengkelnya saat dua orang pelayan dari keluarga Beaumont datang. Lukisan itu adalah potret samar Claire di taman Saint-Jean—dengan cahaya pagi menembus rambutnya seperti emas lembut. Adrien baru saja menyelesaikan bayangan di sudut kanvas saat suara keras mengetuk pintu.

“Tuan Adrien Marchand?”

Adrien menoleh, sedikit gugup. “Ya. Ada apa?”

Namun sebelum sempat mendapat jawaban, dua pelayan itu menyeretnya keluar. Salah satu meninju perutnya, membuat tubuhnya terbungkuk.

“Itu untuk Nona Claire,” desis mereka. “Kau mempermalukan keluarga Beaumont!”

Adrien mencoba melawan, tapi sia-sia. Mereka menyeretnya ke gerbang rumah besar di Rue Saint-Just. Di sana, Étienne Beaumont sudah menunggu dengan wajah seperti patung marmer, dingin dan tak bernyawa.

“Jadi ini kau, pemuda miskin yang berani menulis surat pada putriku?”

Adrien terengah, menatap Étienne tanpa rasa takut. “Saya tidak bermaksud mempermalukan siapa pun, Tuan. Saya hanya mencintainya.”

Étienne tersenyum getir, lalu menamparnya dengan punggung tangan. “Cinta? Cinta tak memberi makan orang miskin. Kau hanyalah noda di kehidupan putriku!”

Adrien terdiam, darah menetes dari bibirnya. Tapi dalam tatapan matanya, ada sesuatu yang membuat Étienne gusar—bukan kemarahan, melainkan keyakinan yang tidak bisa dihapus dengan kekuasaan.

“Cinta kami bukan tentang nama atau uang,” jawab Adrien lirih. “Ia tumbuh karena keindahan yang sama yang Anda sendiri ajarkan dalam seni, Tuan.”

Étienne menarik napas panjang, menahan amarah. “Keluarlah dari Lyon. Jika kau masih berani menulis padanya, aku akan pastikan tak ada galeri di kota ini yang akan menampung karyamu lagi.”

Adrien menunduk, lalu melangkah pergi. Hujan mulai turun—rintik kecil seperti air mata yang tak diundang.

Sementara itu, Claire dikurung di kamarnya di lantai dua. Jendela besar yang biasanya menjadi tempat ia menatap taman kini tertutup rapat oleh tirai tebal.

Ibunya, Madame Beaumont, mencoba menenangkannya. “Claire, kau masih muda. Semua ini hanya kekeliruan hati.”

Namun Claire menjawab lirih, “Jika cinta adalah kekeliruan, maka biarlah aku salah seumur hidup.”

Madame Beaumont menunduk, tak sanggup menatap mata anaknya. Ia tahu dunia tidak seindah sajak Ronsard yang sering dibacakan Claire. Di balik setiap pesta dansa dan parfum mawar, ada rantai panjang yang mengikat mereka pada kehormatan keluarga.

Beberapa jam kemudian, Étienne masuk membawa setumpuk surat dan kertas.

“Ini, semua surat dari pemuda itu.”

Ia menatap Claire dengan tatapan dingin, lalu melempar surat-surat itu ke dalam perapian. Api menyala, melahap tinta dan kertas yang sebelumnya menjadi jembatan dua hati muda.

“Lihat baik-baik, Claire. Itulah yang terjadi jika kau menodai nama Beaumont.”

Claire berlari hendak mengambilnya, tapi ibunya menahan. Air matanya menetes deras saat aroma kertas terbakar memenuhi kamar. Di matanya, ia melihat bukan api—melainkan kenangan: tangan Adrien yang lembut, suara lirihnya di taman, dan puisi yang pernah ia bisikkan:

“Cintaku padamu seperti sungai Saône—tak bisa dikurung tembok mana pun.”

Sejak malam itu, Claire tidak lagi menulis surat terbuka. Ia menyembunyikan perasaannya di balik kitab Mazmur, menulis di sela-sela ayat suci:

“Tuhan, jika cinta ini dosa, biarlah aku menanggungnya seperti salib yang indah.”

Setiap malam, ia menulis satu baris kecil—seolah berdoa, namun sesungguhnya memanggil nama Adrien di antara bayang api lilin.

Sementara itu, di Croix-Rousse, Adrien mencoba bertahan dengan semangat yang terkoyak. Henri Duval, sahabatnya, menatapnya dengan prihatin.

“Kau tahu, Adrien, para bangsawan itu takkan pernah mengizinkanmu.”

Adrien menatap kanvas kosong di depannya. “Tapi bagaimana mungkin aku melukis matahari jika aku harus berpura-pura tidak melihat cahayanya?”

Henri menghela napas panjang. “Kau terlalu puitis untuk dunia yang keras ini.”

Adrien hanya tersenyum pahit. “Mungkin. Tapi cinta, Henri, adalah satu-satunya hal yang membuat dunia ini layak dilihat.”

Ia lalu mengambil kuasnya dan mulai melukis—tidak lagi wajah Claire, tapi bayangannya di jendela, samar dan rapuh, seolah terbuat dari cahaya yang terperangkap di kaca.

Di bawah lukisan itu ia menulis satu kalimat:

“Bayangmu adalah cahaya terakhir yang kutemukan di dunia yang memadamkan namamu.”

Di rumah Beaumont, waktu terus berjalan lambat. Étienne mulai membicarakan rencana pertunangan Claire dengan seorang bangsawan muda dari Avignon, putra sahabat lamanya yang baru diangkat menjadi anggota parlemen.

Madame Beaumont hanya mengangguk lesu. Ia tahu Claire tidak akan bahagia, tapi dalam dunia mereka, kebahagiaan bukan tujuan—melainkan kemewahan yang hanya boleh dirasakan sesekali, diam-diam.

Sementara Claire duduk di tepi jendela, menatap langit sore yang membara di atas atap-atap Lyon. Di bawah sana, mungkin Adrien sedang menatap langit yang sama, menunggu jawaban yang takkan datang.

Tapi cinta mereka belum mati—ia hanya berpindah bentuk. Dari surat menjadi doa, dari pertemuan menjadi kenangan, dan dari kata menjadi lukisan yang tak bisa dibakar.

Dan di suatu tempat, di balik riuh Croix-Rousse yang penuh suara pekerja tenun dan palu besi, Adrien bersumpah dalam hati:

“Jika dunia melarangku mencintainya, maka aku akan membuat dunia ini mengingatnya.”

Ia menatap ke arah bukit Fourvière yang jauh di sana, di mana rumah keluarga Beaumont berdiri angkuh di bawah cahaya senja. Dalam diam, dua hati masih saling mencari, meski dunia mencoba memisahkan mereka.

 

Pagi di Lyon turun perlahan dan suara lonceng Gereja Saint-Jean menggema lembut, melingkari kota tua yang masih basah oleh embun musim dingin. Di depan altar batu yang dingin, Adrien berlutut. Jemarinya yang biasa menggenggam kuas kini saling merapat, bergetar di atas lutut yang bersentuhan dengan marmer dingin. Ia tidak datang sebagai pelukis hari itu, melainkan sebagai manusia yang kehilangan arah antara cinta dan iman.

Père Augustin—pastor paruh baya dengan wajah teduh dan jubah hitam lusuh—menatap pemuda itu dari ruang pengakuan dosa. Suaranya berat dan perlahan, seperti air sungai yang mengalir di bawah es.

“Anakku,” katanya dari balik kisi-kisi kayu, “apa yang membuatmu datang kepada Tuhan pagi ini?”

Adrien menarik napas panjang. “Aku datang karena aku mencintai seseorang yang dilarang kucintai, Père.”

“Larangan manusia, atau larangan Tuhan?”

Adrien terdiam sejenak. “Keduanya, mungkin. Ia berasal dari dunia yang bukan milikku. Tapi… jika cinta datang dari cahaya yang sama, mengapa harus disebut dosa?”

Père Augustin memejamkan mata sejenak. “Cinta, anakku, bisa menjadi berkat atau racun. Yang satu membawa kita pada Tuhan, yang lain menjauhkan kita darinya. Kau harus tahu perbedaannya.”

“Tapi aku tidak tahu, Père,” jawab Adrien, lirih. “Sebab saat aku mencintainya, aku justru merasa paling dekat dengan Tuhan. Setiap kali aku menatap matanya, aku seperti melihat lukisan ciptaan-Nya yang paling sempurna.”

Père Augustin menunduk dalam. Kata-kata itu seperti kilatan yang mengingatkannya pada masa mudanya sendiri, saat iman dan hasrat bertarung dalam satu tubuh manusia yang fana. “Dan perempuan itu?” tanyanya pelan.

“Ia dikurung, Père. Tapi aku masih menulis, meski hanya untuk mengingat bagaimana rasanya menjadi hidup.”

Di luar gereja, cahaya pagi masuk menembus kaca patri berwarna biru dan merah, membentuk corak samar di wajah Adrien—seolah surga sendiri ragu apakah hendak memberkatinya atau mengutuknya.

Père Augustin akhirnya berkata dengan nada lembut namun tegas:

“Lepaskan dia, Adrien. Cinta yang melawan dunia tak akan membawa damai. Kau akan hancur, dan mungkin juga dia. Terkadang, Tuhan meminta kita menyerah pada hal yang paling kita cintai agar kita bisa menyelamatkan jiwa kita sendiri.”

Adrien menatap lantai marmer di hadapannya, di mana bayangan salib jatuh tepat di dadanya.

“Tapi bagaimana jika jiwa itu tak ingin diselamatkan tanpa dirinya?”

Père Augustin tidak menjawab. Hanya suara napas berat yang terdengar di balik kisi kayu itu.

Akhirnya, dengan nada nyaris seperti doa, Adrien berkata,

“Aku tidak tahu apakah aku masih percaya pada surga yang menolak cinta seindah ini.”

Lalu ia berdiri, memberi hormat singkat, dan melangkah keluar.

Di sisi lain kota, di rumah besar keluarga Beaumont, Claire duduk sendirian di kamarnya. Tirai tebal yang dulu menutup jendela kini sedikit terbuka, membiarkan cahaya siang yang redup masuk ke dalam ruangan. Di meja kecil di hadapannya tergeletak kitab Mazmur—buku yang menjadi saksi dari setiap air mata dan kalimat tersembunyi yang ia tulis di antara ayat-ayat kudus.

Hari itu, ia tidak menulis apa pun. Tangannya gemetar, pikirannya kosong. Hanya doa yang datang, lemah dan tersendat:

“Tuhan… aku tidak tahu harus mencintai siapa terlebih dulu—Engkau atau dia.”

Ia menatap salib kecil di dinding kamarnya, salib yang dulu diberkati pada hari pernikahan orang tuanya. “Apakah aku berdosa karena mencintai orang miskin, Tuhan? Atau karena aku menolak kebahagiaan yang mereka pilihkan untukku?”

Di luar kamar, Madame Beaumont berbicara dengan seorang pelayan tentang rencana kunjungan keluarga Dubois—keluarga bangsawan Avignon yang akan datang minggu depan untuk membicarakan pertunangan. Claire mendengar nama itu berulang kali, seperti belenggu yang diulang agar lebih dalam menancap di hatinya.

Ia ingin menolak, berteriak, melarikan diri. Tapi di dunia Claire Beaumont, seorang perempuan tidak melarikan diri; ia hanya tunduk dengan elegan. Maka satu-satunya tempat yang tersisa baginya untuk melawan adalah doa.

Malam itu, ia berjalan diam-diam menuju Gereja Saint-Jean—gereja yang sama tempat Adrien mengaku dosa pagi tadi.

Gereja tampak sepi. Lilin-lilin di altar tinggal beberapa batang, menyala goyah diterpa angin dari pintu yang sedikit terbuka. Suara langkah sepatu Claire bergema di lantai marmer. Ia berlutut di depan altar yang sama, di tempat Adrien berdoa.

“Jika ia datang ke sini hari ini, Tuhan,” bisiknya, “maka biarlah doa kami bertemu di udara, meski kami tak bisa bertemu di dunia.”

Ia menundukkan kepala, lalu menangis—bukan tangis lemah seorang wanita yang menyerah, melainkan tangis seorang jiwa yang menolak dilupakan.

Père Augustin, yang kebetulan masih berada di ruang sakristi, melihat sosok itu dari kejauhan. Ia mengenali wajahnya—putri dari keluarga Beaumont, gadis yang disebut Adrien pagi tadi. Seketika, batinnya berguncang. Dua manusia muda ini datang ke tempat yang sama, memohon hal yang sama pada Tuhan yang sama, tapi dari dua arah yang berlawanan: satu memohon kekuatan untuk melepaskan, satu memohon mukjizat agar tak dipisahkan.

Ia tidak menghampiri Claire. Ia hanya berdiri di kejauhan, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara. Dalam hati, ia berdoa agar Tuhan berbelas kasih pada cinta yang terlalu murni untuk dibiarkan hidup di dunia yang penuh aturan.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti langit tanpa matahari. Adrien tidak lagi ke bengkel lukisannya. Ia lebih sering berjalan menyusuri tepi Sungai Saône, membawa buku sketsa dan secarik kertas kosong. Dalam dirinya, ada pergulatan yang terus berdenyut: antara iman yang diajarkan Père Augustin dan cinta yang hidup dalam darahnya.

Di setiap orang yang ia lihat—sepasang kekasih, seorang ibu, seorang pengemis—ia mencoba mencari jawaban: apakah cinta hanyalah bentuk lain dari kesombongan manusia, ataukah satu-satunya jalan untuk memahami kasih Tuhan?

Suatu sore, ia kembali ke Gereja Saint-Jean. Ia berdiri di bawah lengkung batu besar yang berlumut, menatap langit-langit tinggi yang tampak seperti memenjarakan cahaya.

Ia berbisik lirih,

“Père Augustin salah. Cinta ini tidak melawan Tuhan; justru karena cinta inilah aku mulai mengerti siapa Dia.”

Kemudian ia duduk di bangku belakang gereja, menulis surat terakhirnya kepada Claire. Tidak panjang, tidak puitis seperti biasanya. Hanya satu kalimat:

“Mari kita bertemu di tempat yang tak bisa memisahkan kita lagi.”

Ia melipat surat itu dengan hati-hati, menyerahkannya pada Henri untuk dikirim lewat pelayan yang masih berani mengambil risiko itu.

Di rumah Beaumont, Claire menerima surat itu malam berikutnya. Ia membukanya dengan tangan gemetar. Satu kalimat saja—tidak ada tanda tangan, tidak ada tanggal. Tapi ia tahu, ia tak butuh lebih dari itu.

Ia memejamkan mata, mencium kertas itu, dan untuk pertama kalinya sejak dikurung, ia tersenyum.

Namun di balik senyum itu, air mata jatuh pelan ke pipinya. Ia tahu kalimat itu bukan janji untuk bertemu di taman atau di kota lain. Itu adalah panggilan yang lebih sunyi, lebih dalam. Adrien tidak mengajak lari—ia mengajak berpisah dari dunia yang menolak mereka.

Malam itu, Claire kembali berdoa di depan salib kamarnya.

“Tuhan, jika cinta ini salah, maka biarlah Engkau sendiri yang memisahkan kami. Tapi jika Engkau menciptakan cinta untuk menunjukkan bagaimana manusia harus mengasihi, maka tolong biarkan kami bertemu sekali lagi—meski bukan di dunia ini.”

Dan ketika lilin terakhir padam, Lyon tampak seperti kota yang menahan napas. Di kejauhan, lonceng Saint-Jean berdentang sekali—dalam, berat, seperti doa yang tak kunjung dikabulkan.

 

Lyon terlelap dalam senyap yang tidak suci. Di atas langit kelam, bulan menggantung sendirian seperti lilin di ruang pemakaman yang luas. Sungai Saône berkilau pucat, memantulkan bayangan jembatan-jembatan batu yang seolah menahan napas. Angin membawa aroma lembap dari tepi air, bercampur dengan suara ranting yang bergesekan, menyerupai bisikan doa yang terlupakan.

Di sisi lain kota, di halaman belakang rumah keluarga Beaumont, tiga bayangan bergerak cepat di antara pagar dan taman. Henri Duval, dengan langkah mantap namun wajah tegang, memimpin dua sosok yang menunduk di belakangnya.

Adrien memegang tangan Claire erat-erat di bawah jubah hitam panjang yang menutupi tubuhnya. Wajahnya disembunyikan oleh tudung kain tipis. Degup jantung mereka berdua berpacu dengan waktu dan rasa takut. Setiap langkah terasa seperti mencuri sesuatu yang bukan milik mereka — malam itu, mereka mencuri kebebasan.

“Cepat,” bisik Henri, sambil menoleh. “Gerbang belakang tak dikunci, tapi penjaga sering lewat tiap seperempat jam. Setelah itu, aku tak bisa lagi menolong kalian.”

Adrien menatap sahabatnya. “Henri, aku tidak tahu bagaimana membalas semua ini.”

“Jangan bicara tentang balasan,” jawab Henri pelan, namun matanya berkaca. “Aku hanya ingin kau menepati kata-katamu: kalau dunia menolak cinta kalian, maka buatlah dunia baru — meski hanya sebentar.”

Claire menatap Henri. “Terima kasih,” katanya lirih. “Kalau aku dilahirkan kembali, aku ingin kita bertiga bertemu tanpa nama, tanpa gelar, tanpa ketakutan.”

Henri mengangguk cepat, menunduk, lalu mundur perlahan ke balik bayangan pohon. Adrien menggenggam tangan Claire lebih kuat, dan mereka pun menyelinap keluar dari rumah itu — dari dunia yang telah menolak mereka.

Malam itu dingin tapi indah. Di bawah jembatan Saint-Vincent, air Saône mengalir pelan, berkilau di bawah cahaya bulan. Suara gereja Saint-Jean di kejauhan berdentang satu kali, menandakan jam kesepuluh.

Adrien dan Claire berjalan tanpa suara di sepanjang tepi sungai. Langkah mereka meninggalkan jejak di tanah lembap. Claire menengadah, memandangi langit Lyon yang kelabu. “Adrien,” katanya pelan, “aku tidak tahu apakah aku sedang hidup atau sudah mati malam ini.”

“Kita masih hidup,” jawab Adrien, suaranya lembut. “Justru ini pertama kalinya kita benar-benar hidup, Claire.”

Ia berhenti di tepi sungai, membuka tas kulit kecil yang ia bawa. Di dalamnya, terbungkus rapi dalam kain beludru, ada dua gelas kecil dan botol berleher sempit berisi cairan berwarna tembaga gelap.

“Larutan opium dan belladonna,” katanya, hampir seperti seorang seniman yang memperkenalkan karyanya. “Père Augustin bilang cinta bisa menjadi racun, tapi aku kira racun ini justru akan mengembalikan cinta kita kepada asalnya — pada yang abadi.”

Claire menatap cairan itu lama. Ia tidak ketakutan. Ada ketenangan di matanya, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan takdir.

“Adrien,” bisiknya, “apakah kita akan diampuni?”

“Jika cinta ini dosa,” jawabnya, “maka biarlah Tuhan yang menjawab di sisi lain sungai.”

Mereka duduk di rerumputan basah, berhadap-hadapan. Di antara mereka, dua gelas kecil kini penuh hingga setengah. Adrien menatap wajah Claire lama-lama — rambutnya yang keemasan memantulkan cahaya bulan, kulitnya yang pucat seperti marmer muda di kapel, dan matanya yang penuh keyakinan, seperti sedang menatap akhir yang suci.

“Maukah kau menggambar aku untuk terakhir kali?” tanya Claire tiba-tiba.

Adrien tertegun. “Sekarang?”

“Ya. Aku ingin kau mengingatku bukan sebagai gadis dari rumah Beaumont, tapi sebagai perempuan yang pernah kau cintai di tepi Saône.”

Adrien tersenyum kecil. Ia mengeluarkan buku sketsanya, yang telah lusuh dan basah di pinggir. Dengan tangan gemetar tapi lembut, ia mulai menggambar wajah Claire dalam cahaya bulan. Setiap goresan terasa seperti perpisahan yang lembut: garis rambutnya, lekuk bibirnya, bayangan lembut di lehernya.

Claire memandangi Adrien dengan mata yang berkilat basah.

“Kau tahu,” katanya perlahan, “ibuku selalu bilang cinta itu seperti musik. Indah hanya jika dimainkan di waktu yang tepat. Tapi kita... mungkin kita memilih lagu yang salah, ya?”

Adrien berhenti menggambar dan tersenyum getir. “Tidak, Claire. Kita hanya memainkan lagu yang terlalu indah untuk dunia ini.”

Ia menutup buku sketsa, menaruhnya di samping. Kemudian ia mengambil salah satu gelas kecil, menyerahkannya kepada Claire.

“Untuk kebebasan,” katanya.

Claire menerima gelas itu. “Untuk cinta,” jawabnya.

Mereka saling menatap. Waktu berhenti. Angin di tepi Saône seolah menahan hembusannya, dan air sungai menjadi cermin yang memantulkan wajah dua manusia yang berani menentang dunia.

Mereka mengangkat gelas mereka, menyentuhkan bibir pada tepi kaca. Cairan itu pahit, berbau bunga dan kematian. Claire meneguknya perlahan, seperti mencicipi air kehidupan yang dijanjikan. Adrien meneguk setelahnya, tak ada keraguan.

Setelah itu, mereka saling berpelukan.

Adrien menarik tubuh Claire ke dadanya. “Aku ingin kau ingat satu hal,” bisiknya di telinganya.

“Tidak ada dunia tanpa engkau di dalamnya.”

Claire menatap matanya — dan di sana, ia melihat bukan kematian, tapi cahaya yang menenangkan, seperti matahari pagi di atas lembah.

“Kalau begitu,” katanya lirih, “biarlah dunia berhenti malam ini.”

Waktu berjalan pelan setelah itu. Efek racun datang dengan lembut seperti kantuk. Claire bersandar di bahu Adrien, sementara bintang-bintang di langit tampak bergetar.

“Mungkin nanti kita akan terlahir kembali di tempat yang tak mengenal nama,” bisik Claire. “Aku ingin jadi awan, dan kau jadi sungai — agar aku bisa terus melihatmu dari langit.”

Adrien tersenyum. “Kalau begitu, aku akan terus mengalir di bawahmu, sampai dunia berhenti berputar.”

Tubuh Claire semakin lemah, napasnya semakin lambat. Adrien mencium keningnya, lalu memejamkan mata. Dalam diam, ia merasakan tubuh mereka menyatu dalam dingin yang tenang, dalam cinta yang tidak membutuhkan restu siapa pun.

Suara lonceng gereja Saint-Jean berdentang dua kali — berat, dalam, seperti nadi terakhir kota yang ikut berduka.

Dan di antara gema lonceng itu, dua sosok di tepi Saône perlahan membeku dalam pelukan mereka.

Menjelang pagi, di tepi Sungai Saône—udara terasa lebih berat, seolah membawa rahasia yang enggan diucapkan. Dari perahu kayunya, seorang nelayan bernama Baptiste melihat sesuatu di antara sisi sungai: dua tubuh, terbaring saling berdekapan. Tangan mereka masih saling menggenggam. Di rambut perempuan itu terselip sehelai bunga kering.

Di samping mereka, sebuah buku sketsa terbuka, di dalamnya gambar seorang perempuan tersenyum lembut, dengan catatan kecil di bawahnya:

“Cinta yang benar tak mati — ia hanya berpindah tempat.”

Ketika kabar menyebar ke kota, Lyon seakan berhenti bernafas. Orang-orang dari Croix-Rousse hingga Bellecour berkumpul di tepian sungai. Seorang ibu berbisik lirih, “Mereka tampak damai, bukan?”—dan air matanya jatuh tanpa tahu untuk siapa. Orang-orang berbicara dengan nada campur antara terkejut dan simpati, sementara Gereja Saint-Jean menyalakan lilin untuk dua jiwa muda yang “tersesat dalam kasih.”

Polisi kota menutupi tubuh mereka dengan kain.

 

Claire Beaumont dan Adrien Marchand. Dua nama yang, bagi sebagian orang, hanya berarti gadis bangsawan dan pelukis miskin. Tapi pagi itu, di bawah cahaya redup Fourvière, keduanya menjadi lambang yang lebih besar dari diri mereka sendiri.

Ketika tubuh mereka diangkat, Étienne Beaumont berdiri kaku di pinggir dermaga. Wajahnya pucat, seperti batu nisan yang tak pernah mengenal penyesalan. Élise Lambert berlutut di belakangnya, menggenggam rosario sambil memalingkan wajah—tak sanggup memandang anak majikannya yang kini tampak seperti patung marmer di altar.

Henri Duval berdiri di tepi Saône, menatap tempat di mana sahabat dan kekasih sahabatnya berakhir. Angin menggoyangkan air perlahan, seolah menyembunyikan rahasia mereka. Di tanah, ia menemukan sapu tangan putih dengan inisial C. de B, masih harum lavender. Ia mengambilnya, menggenggam kuat-kuat, lalu berbisik ke langit:

“Kalian memang menolak tunduk. Tapi kalian telah menang. Dunia ini terlalu sempit untuk cinta seagung itu.”

Ia meletakkan sapu tangan itu di atas air, membiarkannya terbawa arus. Dalam diam, Lyon kembali berdenyut seperti biasa, tapi di tepi Saône, cinta dua manusia masih bergetar lembut — abadi dalam kesunyian malam yang menolak melupakannya.

Para biarawan dari Gereja Saint-Jean datang. Namun Père Augustin hanya berdiri, menatap keduanya mayat itu lama sekali. Di dalam dirinya, ia tahu: mungkin Tuhan sendiri menangis malam itu, karena melihat dua manusia yang mencintai-Nya dengan cara yang tak dimengerti dunia.

Ils sont partis sans sacrement,” katanya lirih.

Tapi di matanya yang basah, ada sesuatu yang menyerupai pengampunan.

Pemakaman mereka diadakan di pemakaman kecil di kaki bukit Fourvière. Gereja menolak upacara penuh, sebab bunuh diri dianggap dosa. Tapi penduduk datang dalam diam—para pelukis miskin, pelayan-pelayan rumah tangga, hingga anak-anak yang pernah melihat Claire memberi sedekah di pasar. Mereka menaburkan bunga di atas tanah yang masih basah.

Henri berdiri di tepi kubur, membaca sepenggal kalimat dari surat terakhir Adrien yang sempat ia temukan:

“Cinta yang sejati tidak berakhir di dunia, ia hanya berpindah tempat di mana waktu tak lagi menua.”

Kata-kata itu bergema di antara gumam doa dan tangis tertahan. Bahkan beberapa biarawan muda yang dilarang hadir tetap datang, berdiri jauh di belakang, memegangi salib kecil di dada.

Di rumah besar keluarga Beaumont, tirai-tirai diturunkan selama berminggu-minggu. Étienne memerintahkan agar nama Adrien tak lagi disebut di rumah itu. Namun setiap malam, suara denting piano dari kamar Claire masih terdengar samar—entah gema kenangan, entah halusinasi. Kadang Élise Lambert, pelayan yang dulu melapor pada sang ayah, berdiri di depan pintu kamar itu dengan wajah menyesal. Ia bersumpah mendengar seseorang berbisik dari dalam: “Je suis là, Adrien…”

Musim berganti. Lyon kembali hidup. Pasar Croix-Rousse ramai lagi, pameran seni digelar di balai kota, dan orang-orang mulai lupa tragedi itu—atau setidaknya berpura-pura lupa. Namun di tepian Saône, setiap malam Jumat pertama musim gugur, selalu ada sepasang bunga anyelir putih mengapung di permukaan air. Tak ada yang tahu siapa yang meletakkannya.

Père Augustin menuliskan catatan di buku paroki Saint-Jean:

“Claire Beaumont dan Adrien Marchand, wafat pada fajar keempat Oktober, tahun 1827. Mereka mati tanpa sakramen, tapi barangkali lebih dekat pada surga daripada kita yang hidup.”

Kalimat itu kelak dibaca oleh murid-murid seminari muda yang menangis diam-diam. Dalam hati mereka, lahirlah simpati baru terhadap cinta—cinta yang mungkin berdosa di mata hukum, tapi suci di mata hati.

Henri Duval membuka galeri kecil di Rue Mercière beberapa tahun kemudian. Di dinding utamanya, tergantung lukisan terakhir Adrien: “Femme au Pont.” Lukisan itu kini dikelilingi oleh bingkai dedaunan emas, dengan keterangan kecil di bawahnya:

“Didedikasikan untuk C. de B., yang menatap dunia dengan cahaya yang tak pernah padam.”

Setiap kali pameran dibuka, para pengunjung berdiri lama di depan lukisan itu. Beberapa wanita muda mengusap air mata mereka. Beberapa pria menyebutnya romantisme berlebihan. Tapi Henri tahu, setiap orang yang berhenti di sana merasakan hal yang sama: kehangatan yang menusuk seperti rindu yang tak selesai.

Di luar galeri, para penyair Lyon mulai menulis tentang mereka.

Les Amants de la Saône,” begitu sebutan yang melekat sejak itu—Para Kekasih dari Saône.

Lagu-lagu rakyat muncul di kedai anggur: tentang gadis bangsawan yang turun dari menara untuk mengejar pelukis miskin, tentang dua jiwa yang menolak tunduk pada dunia. Anak-anak di Fourvière bahkan bermain di tepi sungai sambil bernyanyi pelan:

“Mereka meninggal di tepi sungai, tapi hati mereka jadi bintang.”

Dan setiap kali matahari tenggelam di Lyon, kilau di permukaan Saône seperti dua cahaya kecil yang berkejaran—satu emas, satu putih. Orang-orang bilang, itu roh mereka, masih berjalan beriringan.

Dua puluh tahun berlalu.

Étienne Beaumont meninggal dalam kesunyian. Di ruang kerjanya ditemukan surat yang tak pernah dikirim, tertulis dengan tinta memudar:

“Aku tidak pernah tahu cinta bisa seindah sekaligus sekejam itu. Jika aku punya kesempatan kedua, mungkin aku akan memeluk mereka, bukan memisahkan.”

Surat itu dimakamkan bersama dirinya, atas permintaan terakhir sang imam.

Di bukit Fourvière, dekat basilika yang belum rampung dibangun, ada batu kecil tanpa nama. Di atasnya, setiap musim gugur, seseorang selalu menaruh dua bunga anyelir putih dan selembar kanvas kecil bergambar jembatan.

Orang-orang Lyon memanggil tempat itu Le Jardin des Silences—Taman Keheningan.

Mereka datang bukan untuk berdoa, tapi untuk mengingat.

Dan di antara segala yang hilang dari abad ke-18 itu—revolusi, perang, kebangkrutan bangsawan, dan pudar aristokrasi—kisah mereka tetap hidup seperti nyala lilin di jendela yang tak pernah padam.

Para seniman muda menyebut nama mereka ketika bicara tentang cinta yang menolak tunduk.

Para biarawati kadang menyebutnya dalam doa, dengan nada yang tak lagi mengutuk, melainkan iba.

Dan di hati para warga Lyon, les amants de la Saône menjadi legenda yang tak lekang oleh waktu: kisah dua jiwa yang gagal hidup bersama di dunia yang kejam, tapi berhasil menyatu di tempat di mana tak ada nama, tak ada kasta, dan tak ada larangan.

“Mereka gagal hidup bersama di dunia yang kejam, tapi di keheningan Saône, nama mereka menjadi satu.”

Apakah sungai mengingat mereka?

Mungkin tidak. Tapi setiap kali fajar datang di Fourvière, kabut di atas air tampak berputar lembut, seperti dua siluet yang menari. Dan bagi mereka yang peka pada keheningan, di sana terdengar bisikan yang tak bisa ditulis oleh siapa pun "Je t'aime, pour toujours."

Share: