14 Hari



Lapas Cendana Kelas IIA Bekasi, 2023

Ivan memanggil namaku pelan, tangannya menyelip ke balik saku celananya dan mengeluarkan foto kecil. Lalu mengangkatnya setinggi dadaku. Senyumnya tipis. Matanya menikmati sesuatu yang belum kupahami.

Aku mengambil foto itu.

Kertasnya tipis. Sudutnya sedikit terlipat. Tanganku tiba-tiba terasa dingin, padahal udara panas menempel di kulit. Pandanganku jatuh pada gambar itu—dan dunia mengecil menjadi satu titik.

Tanganku mulai bergetar. Bukan gemetar kecil. Getaran kasar yang membuat foto itu bergetar ikut menari di depan wajahku.

Aku memukul Ivan dengan keras, kepalanya terhantam ke samping. Buku-buku jariku menabrak tulang pipinya. Bunyi benturan itu pendek, berat. Ivan terhuyung, belum sempat mengangkat tangan.

Aku memukul lagi.

Ia jatuh.

Suara teriakan pecah di blok. Seseorang berteriak memanggil sipir. Seseorang mencoba menarik bahuku. Aku tidak peduli.

Aku naik ke atas tubuhnya.

Tinju pertamaku menghantam mulutnya. Darah memercik ke pipiku. Tinju kedua menghantam hidungnya. Ada bunyi retak kecil. Ia mencoba menutup wajahnya, tapi aku menarik tangannya dan menghantam lagi.

Kertas foto itu jatuh di samping kepala Ivan, ternodai darah.

Aku menghantamnya lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Wajahnya berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi kukenal sebagai manusia. Ia merintih. Lalu suaranya hilang. Kepalanya membentur lantai setiap kali tinjuku turun. Darah mengalir dari pelipisnya, membentuk garis tipis menuju saluran air.

Seseorang memeluk pinggangku dari belakang. Aku mengibaskan tubuhku keras. Lepas.

Aku menghantam lagi.

Tanganku sakit. Kulit jariku sobek. Aku tidak merasakannya. Yang kurasakan hanya panas di dada. Panas yang selama tiga tahun kukunci rapat.

Langkah sepatu berlari mendekat.

“Berhenti! Berhenti!”

Tongkat sipir menghantam punggungku. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Tubuhku tersentak ke depan. Dua sipir menarik lenganku. Aku masih berusaha meraih Ivan, mencoba melepaskan diri. Tanganku terjulur, jari-jariku nyaris menyentuh kerah bajunya yang basah darah.

“Bawa dia ke isolasi!”

Aku diseret menjauh. Wajah Ivan menghilang dari pandanganku. Terakhir yang kulihat hanyalah tubuhnya terkulai dan darah yang terus mengalir di lantai blok.

Napas kembali terdengar. Suara teriakan kembali jelas. Dunia kembali ada.

Dan tiba-tiba, semuanya terasa sunyi.

Di lorong sempit menuju sel isolasi, dadaku naik turun seperti baru selesai berlari jauh. Tanganku masih gemetar, bukan karena takut—melainkan karena sesuatu yang baru saja pecah dan tidak bisa dikembalikan.

Empat belas hari lagi aku bebas.

Empat belas hari lagi aku seharusnya pulang.

Namun sesuatu dalam diriku telah lebih dulu lepas—dan aku tidak yakin ia ingin kembali.

 

Sebelum semua menjadi dinding dan jeruji, hidupku hanya berputar di antara kantor proyek, rumahku dan rumah mertua.

Namaku Kristian. Umurku 35 tahun saat itu. Aku bekerja sebagai staf pengadaan proyek di Bekasi. Bukan pejabat penting. Hanya orang yang memeriksa angka-angka, mencocokkan spesifikasi, memastikan harga satuan tidak melampaui batas wajar.

Aku menyukai pekerjaanku karena angka terasa jujur.

Setidaknya, aku ingin percaya begitu.

Ayla sudah 7 tahun meninggal saat itu. Ia pergi setelah melahirkan Kayla. Bahkan aku terlambat datang saat persalinannya. Dokter bilang komplikasi. Aku hanya ingat ruang bersalin yang putih dan dingin, tangis bayi yang baru lahir, dan tubuh Ayla yang diam terlalu lama.

Sejak hari itu, semua keputusanku hanya punya satu tujuan: Kayla.

Kayla berusia 7 tahun. Rambutnya lurus, matanya besar seperti ibunya. Setiap pulang sekolah ia bersama orang tua Ayla karena aku sering lembur. Setiap malam aku datang untuk menjemputnya pulang, meski hanya untuk menemaninya mengerjakan PR atau membacakan cerita sebelum tidur. Hal itu aku lakukan setiap hari kerja, hari libur kami selalu melakukan hal apapun bersama.

“Papa jangan lama-lama di kantor,” katanya suatu malam, kepalanya bersandar di lenganku.

“Papa kerja supaya Kayla bisa sekolah tinggi,” jawabku.

Ia mengangguk, seolah itu jawaban yang cukup.

Hidupku sederhana. Hangat. Rapuh tanpa kusadari.

Proyek itu datang awal 2019. Peningkatan jalan lingkungan di tiga kecamatan. Nilainya besar. Terlalu besar.

Aku membuka rincian anggaran di layar komputer kantor. Harga aspal hotmix melonjak hampir empat puluh persen dari standar e-katalog. Volume agregat bertambah tanpa justifikasi teknis. Biaya drainase membengkak tidak masuk akal.

Aku membuka arsip proyek tahun lalu. Perbandingannya jomplang.

Dadaku terasa tidak nyaman.

Aku mencetak dokumen dan mendatangi Fadli.

“Lo lihat ini,” kataku, menunjuk angka-angka.

Fadli membaca sekilas lalu mengangkat bahu. “Udah sesuai arahan.”

“Arahan siapa?”

Ia tersenyum kecil, senyum yang tidak sampai ke mata. “Atas.”

“Atas itu siapa, Fadli? Kita harus verifikasi.”

Ia menutup map itu pelan. “Kris, jangan terlalu idealis. Semua juga dapat bagian.”

Aku menatapnya lama. “Maksud lo?”

Fadli merendahkan suara. “Mark-up itu bukan buat satu orang. Kita cuma ikut arus. Aman.”

Aku pulang malam itu dengan kepala penuh angka yang tidak masuk akal.

Di rumah mertua, Kayla sudah tertidur di sofa, menungguku. Bu Ratna menyuruhku makan dulu. Pak Surya hanya menatap televisi tanpa banyak bicara.

Aku mengangkat Kayla ke mobil dan pulang ke rumah. Wajahnya damai. Aku mencium keningnya dan berbisik, “Papa nggak akan macam-macam.”

Janji itu terasa penting.

Beberapa hari kemudian, aku dipanggil Haryo ke ruangannya.

Haryo, kepala bidang pengadaan. Usianya kurang lebih 50an. Wajahnya selalu tenang, seperti orang yang sudah terlalu sering melihat badai.

“Kris, duduk.”

Ia menggeser map proyek ke arahku. “Kamu detail sekali. Bagus.”

Aku tidak menjawab.

“Proyek ini penting. Banyak kepentingan di dalamnya.”

“Justru itu, Pak. Angkanya tidak wajar.”

Haryo tersenyum tipis. “Tidak wajar menurut siapa?”

“Menurut standar harga resmi.”

Ia bersandar. “Standar itu fleksibel.”

Aku menatapnya. “Saya tidak bisa tandatangani sebelum ada klarifikasi.”

Haryo mencondongkan tubuhnya ke depan. “Semua orang di sini dapat bagian. Kamu juga.”

Aku merasa perutku mual. “Saya tidak butuh.”

Ia terdiam beberapa detik. Lalu suaranya berubah lebih datar. “Jangan jadi pahlawan. Sistem tidak suka pahlawan.”

Aku keluar ruangan itu dengan keputusan di kepala: aku akan melapor. Setidaknya ke inspektorat internal. Atau anonim.

Aku mulai mengumpulkan salinan dokumen. Mencatat perbandingan harga. Menyimpan file di flashdisk pribadiku.

Aku pikir aku masih punya waktu.

Seminggu kemudian, aku membuka berkas final proyek untuk terakhir kali sebelum menyusun laporan.

Jantungku berhenti sesaat.

Di halaman persetujuan, tertera tanda tanganku.

Rapi. Presisi. Bahkan lekukan huruf “K” di awal sama persis.

Aku belum pernah menandatangani.

Tanganku dingin.

Aku memeriksa halaman lain. Para pihak sudah menyetujui. Proyek siap jalan. Dan tiba-tiba namaku tercantum sebagai pejabat yang mengesahkan, padahal aku hanya staf biasa.

Aku mendatangi Fadli. “Ini apa?”

Ia pura-pura bingung. “Apa maksud lo?”

“Tanda tangan ini.”

Fadli tidak lagi tersenyum. “Sudah final, Kris. Jangan bikin ribut.”

Aku ke ruangan Haryo. Pintu tertutup.

“Pak, ini pemalsuan.”

Ia menatapku lama. “Hati-hati bicara.”

“Saya belum tanda tangan, bahkan kenapa saya menjadi pejabat yang berwenang dalam dokumen ini.”

Ia membuka laci dan mengeluarkan satu lembar dokumen lain—fotokopi formulir lama dengan tanda tanganku.

“Banyak dokumen pakai tanda tangan digital, Kris. Sulit dibedakan.”

Aku sadar sesuatu bergerak lebih cepat dariku.

Pagi itu, aku sedang mengikat tali sepatu di ruang tamu rumah ketika terdengar ketukan keras di pintu.

Bukan ketukan biasa. Ketukan yang memaksa.

Aku membuka pintu.

Beberapa pria masuk. Jaket gelap. Lencana. Wajah formal.

“Kami dari kepolisian ingin memeriksa Saudara Kristian terkait dugaan tindak pidana korupsi proyek pengadaan jalan.”

Kayla muncul dari kamar, rambutnya masih acak.

“Papa?”

Duniaku menyempit.

“Saya tidak pernah menerima uang apa pun,” kataku. “Ini salah.”

Salah satu petugas menunjukkan map tebal. “Semua bukti mengarah pada Anda. Tanda tangan persetujuan, aliran dana, komunikasi internal.”

Aku berusaha menjelaskan. Kata-kataku terdengar jauh bahkan di telingaku sendiri.

Kayla berjalan mendekat. “Papa mau dibawa kemana?”

Tanganku ditarik ke belakang.

Dingin logam melingkar di pergelanganku.

Klik.

Suara borgol itu seperti petir di ruangan kecil itu.

“Jangan sentuh Papa!” Kayla berteriak.

Aku berusaha mendekat, tapi tubuhku ditahan. “Kayla, Papa nggak apa-apa. Dengar Papa.”

Air matanya jatuh deras. Ia mencoba memeluk kakiku. Seorang petugas menarikku menjauh.

Aku meronta. “Saya tidak bersalah! Periksa lagi dokumennya!”

Tetangga mulai berkumpul di luar. Ponsel terangkat. Bisik-bisik terdengar.

Kayla menjerit memanggil namaku saat aku diseret ke mobil.

Pintu mobil ditutup keras.

Suara tangisnya masih terdengar saat mesin dinyalakan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa benar-benar tidak berdaya.

 

Ruang sidang terasa panas, bahkan ketika hujan turun di luar gedung pengadilan.

Aku duduk di kursi terdakwa, kemeja putih yang mulai kusut, tangan terlipat di atas meja kayu yang permukaannya penuh goresan. Jam dinding berdetak lambat. Setiap detik seperti sengaja diseret agar terdengar lebih panjang.

Sidang kasusku bukan sidang yang penuh teriakan. Tidak ada drama berlebihan. Semuanya prosedural. Sistematis. Dan justru itu yang melelahkan.

Jaksa berdiri dengan map tebal. Suaranya datar ketika menyebut namaku.

“Saudara Kristian Pradana terbukti menyetujui dan mengesahkan anggaran proyek peningkatan jalan dengan nilai mark-up signifikan…”

Kata-katanya seperti palu kecil yang mengetuk pelan tapi terus-menerus.

Dokumen demi dokumen ditampilkan.

Halaman persetujuan.

Rekap transfer.

Print out komunikasi internal.

Dan di sana, jelas, tanda tanganku.

Rapi.

Presisi.

Meyakinkan.

Aku menatapnya setiap kali ditampilkan di layar proyektor. Rasanya seperti melihat wajahku sendiri yang mengkhianatiku.

Pengacaraku, Arman Wiratama, duduk di sampingku. Jasnya selalu rapi. Rambutnya disisir ke belakang. Ia berbicara tenang setiap kali mendapat giliran.

“Yang Mulia, klien kami tidak pernah menerima aliran dana secara langsung.”

Ia menekankan kata “secara langsung”.

Kalimat yang terdengar seperti pembelaan, tapi terasa berlubang.

Di luar sidang, ia sering terlihat sibuk dengan ponselnya. Jarang menatapku lama.

“Ada peluang?” tanyaku suatu sore setelah sidang keempat.

Arman menghela napas. “Kita lihat arah angin.”

Aku tidak mengerti maksudnya.

Rekan kerjaku dipanggil sebagai saksi.

Fadli duduk di kursi saksi dengan wajah yang kupahami terlalu baik. Ia tidak terlihat gugup.

“Apakah Saudara Kristian terlibat aktif dalam pembahasan anggaran?” tanya jaksa.

“Ya,” jawab Fadli tanpa ragu. “Dia yang paling vokal soal revisi angka.”

“Apakah Saudara pernah melihat terdakwa menerima sesuatu?”

Fadli menunduk sebentar. Lalu mengangguk kecil. “Saya tidak tahu pasti jumlahnya. Tapi ada pembicaraan soal pembagian.”

Darahku mendidih.

“Itu tidak benar!” seruku sebelum hakim mengetuk palu.

“Tenang, terdakwa.”

Haryo datang sebagai saksi berikutnya.

Wajahnya tetap tenang seperti biasa.

“Saudara Kristian yang menandatangani dokumen akhir. Kami hanya mengikuti prosedur.”

Mengikuti prosedur.

Kalimat yang terdengar bersih. Padahal di baliknya ada lumpur.

Sidang berjalan berbulan-bulan.

Setiap minggu aku duduk di ruangan panas itu. Mendengarkan orang-orang berbicara tentang diriku seolah aku bukan manusia, hanya nama dalam berkas perkara.

Tabunganku perlahan habis. Biaya hukum tidak murah. Setiap kali Arman mengirim rincian honor, dadaku terasa makin sesak.

Media lokal mulai memberitakan kasusku.

“Pegawai Korupsi Proyek Daerah Terancam Hukuman Berat.”

Namaku muncul di layar ponsel. Foto saat penangkapan dipakai berulang-ulang. Kayla pernah melihatnya di televisi.

Suatu malam, setelah sidang yang terasa lebih berat dari biasanya, Arman memintaku bertemu di ruang konsultasi kecil dekat pengadilan.

Ruangan itu sempit. Dindingnya tipis. Lampu neon berdengung pelan.

Arman tidak langsung duduk. Ia berdiri menghadap jendela kecil yang menghadap parkiran.

“Aku akan bicara jujur sekarang,” katanya pelan.

Aku menunggu.

“Ada hal-hal yang tidak bisa kau lawan di ruang sidang.”

“Apa maksudnya?”

Ia menoleh. Untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu yang tidak biasa di wajahnya—bukan percaya diri, bukan profesionalisme. Sesuatu seperti penyesalan.

“Pihak yang kau sentuh itu besar, Kris.”

Dadaku terasa kosong.

Aku menatapnya, tidak mengerti.

“Mereka tahu tentang Kayla.”

Udara di ruangan itu tiba-tiba terasa lebih tipis.

Arman menelan ludah. “Jika kau terus melawan, jika kau memaksa membuka ini lebih jauh… ada kemungkinan situasi di luar menjadi tidak aman.”

“Aku tidak suka ini,” lebih lirih. “Tapi keselamatan anakmu lebih penting, Kris.”

Kalimat itu seperti palu yang menghantam kepalaku dari dalam.

Aku membayangkan Kayla berjalan pulang sekolah.

Membayangkan seseorang mengawasinya.

Membayangkan pintu rumah mertua yang bisa dibuka kapan saja.

Arman duduk dan berkata “Jika kau kooperatif, hukumannya bisa lebih ringan. Lima tahun. Dengan kemungkinan Pembebasan Bersyarat.”

Lima tahun lebih ringan, katanya.

“Dan kalau aku melawan?”

Arman menatap meja. “Aku tidak bisa menjamin apa pun.”

Sidang terakhir datang seperti akhir dari kelelahan panjang.

Hakim bertanya dengan suara datar, “Apakah terdakwa tetap pada pembelaannya?”

Ruang sidang sunyi.

Aku melihat ke arah kursi pengunjung.

Kayla duduk di sana bersama Bu Ratna. Seragam sekolahnya masih dipakai. Ia menatapku dengan mata yang terlalu besar untuk anak tujuh tahun.

Aku memikirkan semua kemungkinan.

Kebenaran.

Perlawanan.

Risiko.

Lalu wajah Ayla muncul di kepalaku.

Aku sudah gagal melindunginya.

Aku tidak boleh gagal lagi.

“Saya…” Suaraku serak. Aku menelan ludah. “Saya menandatangani dokumen itu.”

Ruangan seperti mengembuskan napas bersama.

Jaksa tersenyum tipis.

Arman menunduk.

Hakim membacakan vonis dengan suara yang tidak berubah sedikit pun:

“Menjatuhkan pidana penjara selama lima tahun… dengan hak mengajukan Pembebasan Bersyarat sesuai ketentuan.”

Lima tahun.

Kata-kata itu bergema di kepalaku.

Aku tidak lagi mendengar kelanjutan pembacaan putusan. Yang kulihat hanya Kayla yang berdiri dari kursinya, mencoba mendekat sebelum ditahan petugas.

Dan di dalam diriku, sesuatu mulai retak—pelan, tapi pasti.

 

Gerbang besi menutup di belakangku dengan bunyi yang berat. Bukan sekadar suara logam beradu. Lebih seperti sesuatu yang dipastikan tak akan terbuka untuk waktu yang lama.

Aku berdiri di halaman dalam Lapas Cendana Kelas IIA Bekasi dengan tas plastik berisi pakaian dan beberapa dokumen yang sudah tak berarti. Bau keringat, karbol murahan, dan nasi basi bercampur menjadi satu. Udara terasa padat, seolah setiap orang di sini bernapas dengan paru-paru yang sama.

Sipir yang mengantarku tidak banyak bicara. Ia hanya menyebutkan nomor blok dan sel, lalu berjalan lebih cepat dariku. Aku mengerti pesan tak tertulis itu: di sini, kau belajar mengikuti.

Lorong-lorongnya panjang, temboknya kusam dengan cat yang mengelupas. Coretan nama, tanggal masuk, dan sumpah serapah memenuhi dinding. Di beberapa sudut, napi duduk bergerombol. Tatapan mereka seragam—menilai, mengukur, menentukan.

Hari pertama adalah tentang membaca tanpa bertanya.

Aku segera memahami bahwa tempat ini punya hierarki yang tidak pernah ditulis di papan pengumuman. Blok Utara menguasai area dekat dapur dan ruang olahraga. Blok Timur menguasai jalur distribusi makanan tambahan dan “jasa keamanan.” Ada juga yang memilih netral—orang-orang yang bertahan dengan cara menghilang di tengah keramaian.

Sipir tidak selalu hadir tepat waktu. Dan ketika mereka tak ada, hukum berganti wajah.

“Baru?” suara berat menyapaku dari sisi lorong.

Aku menoleh. Seorang pria berambut cepak dengan tato di leher berdiri bersandar. Matanya kecil tapi tajam.

Aku mengangguk.

“Blok mana?”

“Timur.”

Ia tersenyum tipis. “Bagus. Jangan sok pintar.”

Aku tidak menjawab. Sejak sidang, aku belajar satu hal: kata-kata bisa menjadi jerat.

Selku berisi lima orang termasuk aku. Ruangannya tak lebih dari 3 x 4 meter persegi. Lantai keramik dingin, kasur tipis berjajar. Di sudut, toilet tanpa pintu hanya ditutup tirai plastik setengah sobek.

Liyan menyapaku pertama kali. Tubuhnya kurus, rambutnya mulai memutih meski usianya mungkin belum lima puluh. Ia tersenyum lembut, terlalu lembut untuk tempat seperti ini.

“Nama?”

“Kris.”

Ia mengangguk. “Kasus?”

Aku menahan napas sebentar. “Korupsi.”

Ia hanya berkata, “Semoga cepat selesai.”

Rizal berbeda. Ia lebih banyak diam, wajahnya keras seperti batu. Bekas luka panjang membelah alis kirinya. Derri, yang paling muda, tampak gelisah sejak awal. Tangannya tak pernah berhenti bergerak—memijat jari sendiri, menarik ujung baju, menggigit kuku.

Ekki memperkenalkan diri terakhir. “Aku cuma pinjemin mobil,” katanya pelan. “Nggak tahu dipakai rampok.”

Nada suaranya seperti orang yang sudah terlalu sering mengulang kalimat itu.

Malam pertama datang terlalu cepat. Lampu lorong diredupkan. Dari luar terdengar tawa, kadang bentakan. Suara sandal diseret. Logam beradu.

Aku berbaring menatap langit-langit yang retak. Aku berpikir tentang Kayla. Tentang rambutnya yang selalu berantakan setiap bangun tidur. Tentang bagaimana ia memelukku pagi itu, sebelum borgol menggantikan tangannya.

Aku harus bertahan. Hanya itu.

PB, Pembebasan Bersyarat. Itu tujuanku. Tidak mencari masalah. Tidak berutang. Tidak berkelahi. Tidak bergabung dengan siapa pun.

Hari-hari berikutnya mengajarkanku pola.

Blok Utara berjalan bergerombol. Blok Timur jarang tertawa. Mereka tidak pernah duduk membelakangi pintu. Orang netral menjaga jarak, seperti bayangan.

Suatu sore di lapangan kecil, dua napi dari Utara dan Timur saling tatap terlalu lama. Tidak ada yang bicara. Tapi semua orang tahu itu bukan tatapan biasa. Di sini, perang bisa dimulai dari diam.

Aku memilih membaca buku perpustakaan usang di sudut. Bukan karena tertarik, tapi karena terlihat sibuk membuat orang enggan mendekat.

Malam itu, udara terasa lebih tegang dari biasanya.

Kami baru saja mematikan obrolan ketika suara langkah tergesa terdengar di lorong. Disusul suara pintu besi dibuka paksa. Teriakan kasar.

“Bawa dia!”

Aku bangkit setengah duduk. Rizal mengangkat tangan memberi isyarat diam.

Suara itu datang dari sel tak jauh dari kami.

Jeritan pertama terdengar seperti suara hewan yang terjebak. Tinggi, pecah, penuh ketakutan.

Itu suara Derri.

Aku membeku.

Jeritan kedua lebih lemah. Diselingi tawa. Tawa yang tidak manusiawi.

Liyan memalingkan wajahnya ke dinding. Ekki menutup telinga dengan bantal tipis. Rizal menatap pintu sel kami tanpa ekspresi.

Aku berdiri.

Rizal menarik lenganku pelan tapi tegas. “Jangan.”

“Tapi—”

“Jangan,” ulangnya.

Jeritan itu berlanjut. Kata-kata tak jelas, suara tubuh dibanting, napas terengah. Waktu berjalan lambat. Atau mungkin berhenti.

Aku ingin berteriak. Ingin menghantam pintu. Ingin melakukan sesuatu.

Tapi kakiku tak bergerak.

Karena aku tahu satu hal: di sini, pahlawan mati lebih cepat.

Beberapa menit kemudian—atau mungkin satu jam—suara itu mereda. Diganti langkah-langkah santai dan tawa menjauh. Pintu besi kembali berderit.

Sunyi.

Hanya napas kami yang terdengar.

Tak lama, dua orang menyeret tubuh Derri melewati lorong. Sekilas kulihat wajahnya. Matanya kosong. Bibirnya berdarah.

Ia tidak lagi menjerit.

Aku terduduk perlahan. Tangan gemetar tanpa suara.

Di tempat ini, hukum tidak melindungi. Sipir datang terlambat, atau pura-pura tidak tahu. Hierarki berjalan lebih efektif daripada peraturan tertulis.

Malam itu aku tidak tidur.

Aku menatap kegelapan dan menyadari sesuatu yang lebih dingin daripada lantai keramik: aku tidak bisa menyelamatkan siapa pun di sini bahkan diriku sendiri.

Jika ingin keluar hidup-hidup, aku harus lebih dari sekadar diam. Tapi jika bergerak, aku bisa hancur.

Di lorong, terdengar lagi suara sandal diseret. Pelan. Teratur. Seperti pengingat bahwa tempat ini tak pernah benar-benar tidur.

Aku memejamkan mata, tapi jeritan Derri terus terulang di kepalaku.

Dan untuk pertama kalinya sejak masuk, aku mulai bertanya—berapa lama lagi aku bisa tetap netral di neraka yang punya aturan sendiri ini?

 

Aku belajar lebih cepat daripada yang kuinginkan.

Di Lapas Cendana Kelas IIA Bekasi, bertahan hidup bukan soal kuat atau lemah. Ini soal membaca udara sebelum badai datang.

Aturannya sederhana, tapi konsekuensinya tidak.

Jangan menatap terlalu lama.

Tatapan bisa dianggap tantangan. Tantangan bisa dibalas dengan darah.

Jangan menanyakan kasus orang lain.

Di sini, masa lalu adalah luka terbuka. Mengorek berarti siap ditusuk.

Jangan terlihat sok suci.

Tak ada yang lebih dibenci dari orang yang merasa dirinya berbeda.

Pagi hari dimulai dengan antre mandi, nasi yang terlalu lembek, dan suara teriakan sipir. Siang hari terasa lebih panas dari luar tembok. Lapangan jemur menjadi pusat pergerakan. Orang mencuci, berbincang, atau sekadar berdiri membentuk kubu tak terlihat.

Blok Utara selalu berkumpul di sisi tembok utara, dekat pagar kawat. Blok Timur memilih sudut dekat gudang peralatan. Yang netral berjalan sendirian, seperti aku.

Aku menjaga kepala tetap menunduk, tapi telinga terbuka.

Sampai suatu siang, udara berubah.

Awalnya hanya saling dorong. Seseorang tersenggol ember cucian. Kata-kata kasar meluncur. Tertawa mengejek.

Lalu satu pukulan.

Tubuh seseorang jatuh ke lantai semen. Orang-orang mundur membentuk lingkaran naluriah. Blok Utara bergerak maju. Blok Timur tidak tinggal diam.

Dalam hitungan detik, lapangan berubah jadi pusaran.

Aku berdiri membeku di tepi. Jantungku berdebar seperti ingin keluar dari dada.

Seseorang mengeluarkan sesuatu dari balik pinggangnya.

Pisau rakitan.

Bilahnya tak panjang, tapi cukup untuk membuat napas seseorang terhenti.

Teriakan. Dorongan. Satu ayunan cepat.

Darah memercik ke semen yang masih basah oleh cucian.

Seorang napi dari Timur terhuyung. Tangannya memegang perut. Merah merembes di sela jari.

Semua terjadi terlalu cepat.

Sipir berlari masuk beberapa menit kemudian, tongkat diangkat tinggi. Gas air mata kecil dilemparkan. Orang-orang bubar seperti kawanan burung ditembak.

Aku tersandar di tembok, napasku terengah. Bau logam bercampur darah memenuhi udara.

Hari itu aku mengerti: netral bukan berarti aman. Netral hanya berarti belum dipilih.

Malamnya, razia mendadak.

Pintu sel dibuka keras. “Berdiri! Semua keluar!”

Kasur dibalik. Baju dilempar. Ember ditendang. Tirai toilet disobek.

Aku berdiri dengan tangan di belakang kepala.

Rizal gemetar di sampingku.

Seorang sipir menemukan bungkusan kecil di bawah lipatan kasurnya. Obat-obatan tanpa izin. Wajah Rizal pucat seperti kertas.

“Itu buat lambung,” katanya lirih.

Sipir tidak peduli. Ia menampar Rizal hingga terhuyung. Bungkusan itu dimasukkan ke kantong plastik barang bukti.

Aku ingin bicara. Mengatakan bahwa Rizal sering meringis kesakitan malam-malam.

Tapi aku diam.

Aturan pertama: jangan jadi sorotan.

Setelah sipir pergi, Rizal duduk diam. Tangannya masih bergetar.

“Aku nggak kuat kalau sakitnya kambuh,” bisiknya.

Tak ada yang menjawab. Kami tahu rasa sakit bukan alasan di sini.

Beberapa minggu setelah itu, Liyan mengajakku ikut duduk melingkar di sudut blok setelah lampu mulai redup.

Awalnya aku ragu.

“Kita cuma membuat kelompok terapi,” katanya pelan. “Nggak ada yang menghakimi.”

Itu terdengar seperti hal asing di tempat seperti ini.

Kami duduk di lantai dingin, membentuk lingkaran kecil. Delapan orang. Wajah-wajah yang biasanya keras kini terlihat lebih lelah daripada garang.

Satu orang berbicara, yang lain mendengar.

Tak ada interupsi. Tak ada ejekan.

Aku tidak langsung bicara. Aku mendengar dulu.

Minggu pertama, hanya keluhan kecil. Tentang keluarga yang jarang menjenguk. Tentang anak yang mulai lupa wajah ayahnya.

Minggu demi minggu, lapisan itu mulai terkelupas.

Setahun berlalu hampir tanpa kusadari.

Diluar jeruji ini ada berita besar tentang wabah suatu penyakit. Kunjungan pun dibatasi, aku tidak bisa bertemu Kayla karena wabah ini.

Lingkaran itu menjadi satu-satunya tempat di mana napas terasa sedikit lebih ringan.

Suatu malam, Liyan yang bicara.

Ia duduk bersila, punggungnya lurus. Tangannya terlipat di pangkuan.

“Aku memergoki mereka,” katanya pelan.

Tak ada yang bertanya siapa.

“Aku pulang lebih cepat. Lampu kamar menyala dan aku mendengar suara.”

Ia berhenti. Menelan ludah.

“Beberapa detik itu cukup menghancurkan hidupku.”

Kami tetap diam.

“Aku melihat istriku… bersama pria lain. Mereka bercumbu di kamarku, tanpa sehelai pakaian pun. Keringat mereka menempel di kasurku, di sprei dan bantal tempat aku biasa tidur.”

Suaranya tidak bergetar. Justru ketenangan itu membuat ceritanya terasa lebih berat.

“Bahkan kamar itu masih menyisakan bau mereka.”

Ia terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang.

“Aku gelap mata. Aku bahkan nggak ingat dari mana pisau itu ada di tanganku.”

Ia menunduk.

“Waktu aku sadar… pria itu sudah tergeletak. Ada darah di tanganku. Darah di lantai. Istriku menjerit, bersujud, memohon ampun… tubuhnya masih berantakan.”

Tak ada pembelaan dalam suaranya. Tak ada kebanggaan. Hanya fakta.

“Aku cuma butuh satu detik buat jadi pembunuh.”

Lingkaran itu sunyi lebih lama dari biasanya.

Malam berikutnya, Ekki berbicara.

Ia menatap lantai saat mulai.

“Aku cuma minjemin mobil.”

Kalimat yang sering ia ulangi, tapi malam itu terdengar berbeda.

“Sepupuku bilang mau ketemu klien. Aku mempercayainya karena kami tumbuh bersama.”

Ia tersenyum tipis, pahit.

“Ternyata mobilku dipakai untuk merampok toko emas. CCTV nangkep plat nomor. Polisi datang ke rumahku duluan.”

Ia mengangkat bahu.

“Katanya aku bagian dari komplotan. Karena kendaraan atas namaku.”

“Kau tahu sebelumnya?” tanya seseorang pelan.

Ekki menggeleng.

“Aku cuma bodoh.”

Ia menutup wajah dengan kedua tangan.

Aku duduk di sana, mendengar, dan merasakan sesuatu yang aneh. Di luar lingkaran, kami adalah nomor perkara. Judul berita. Stigma.

Di dalam lingkaran, kami adalah manusia yang membuat keputusan—atau terjebak oleh keputusan orang lain.

Beberapa bulan kemudian, mereka mulai menatapku saat giliran bicara kosong.

Aku tahu saat itu akan datang.

Aku menarik napas.

“Aku nggak dulu,” kataku.

Liyan mengangguk pelan. Rizal menatapku lebih lama dari biasanya.

Di luar, hierarki tetap berjalan. Geng tetap saling mengukur. Pisau rakitan masih bisa muncul kapan saja.

Tapi di dalam kelompok terapi itu, kami belajar satu hal sederhana: bertahan hidup bukan hanya soal tubuh.

Kadang, yang harus diselamatkan lebih dulu adalah bagian kecil dalam diri yang masih merasa manusia.

Dan setiap malam setelah lampu redup, ketika suara langkah di lorong menjauh, aku duduk di sana, di antara mereka.

Masih terkurung.

Masih waspada.

Tapi tidak lagi sepenuhnya sendirian.

 

Bukan temboknya. Bukan jerujinya. Bukan juga hierarki yang tetap berdiri seperti hukum alam. Yang berubah adalah cara kami duduk melingkar setiap malam, setelah lampu lorong mulai diredupkan dan suara sandal sipir menjauh.

Awalnya lingkaran itu hanya tempat mengeluh. Sekarang ia hampir terasa seperti ritual.

Kami biasa berkumpul di sudut blok yang paling jauh dari pintu pengawas. Lantai dingin menjadi alas. Punggung bersandar pada dinding kusam. Satu orang berbicara. Yang lain mendengar. Tidak memotong. Tidak menyela. Tidak menggurui.

Aturannya sederhana: apa yang keluar di lingkaran, tinggal di lingkaran.

Malam itu udara lebih lembap dari biasanya. Bau sabun mandi bercampur keringat. Di luar terdengar suara televisi kecil dari blok lain—acara dangdut yang suaranya pecah.

Rizal yang membuka pembicaraan.

Ia jarang memulai. Biasanya ia hanya mendengar, menatap lantai, atau menggulung lengan bajunya pelan.

“Aku pakai barang haram itu dari umur 19 Tahun,” katanya tiba-tiba.

Kami menoleh, tapi tak ada yang kaget.

“Nggak langsung berat. Awalnya cuma sabu pas nongkrong. Katanya biar semangat kerja.”

Ia tersenyum hambar.

“Kerjaanku waktu itu sebagai kasir di mini market.”

Tangannya saling menggenggam.

“Di rumah, bapak sakit. Ibu penjual sayur di pasar. Aku anak pertama. Semua beban rasanya di pundak.”

Ia berhenti, menarik napas.

“Narkoba bikin semuanya terasa ringan. Capek hilang. Pikiran kosong.”

“Lalu?” tanya Liyan pelan.

“Lalu aku nggak bisa berhenti.”

Suara Rizal tidak meninggi. Justru semakin pelan.

“Aku mulai ngutang. Bohong sama keluarga. Jual motor. Jual barang rumah. Sampai akhirnya ketangkap waktu transaksi kecil.”

Ia menatap kami satu per satu.

“Di sini lebih jujur. Di luar semua pura-pura.”

Kalimat itu menggantung lama.

Di luar, ia pura-pura anak kuat. Pura-pura pekerja keras tanpa celah. Pura-pura baik-baik saja.

Di sini, ia pecandu. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak menyembunyikannya.

Tak ada yang mencibir. Tak ada yang berkata ia lemah.

Hanya anggukan kecil.

Malam berikutnya, giliran Derri.

Ia duduk paling dekat tembok, seperti biasa. Tubuhnya masih terlihat lebih kurus sejak kejadian malam itu bertahun lalu. Tapi matanya tak lagi kosong.

“Aku bikin meme,” katanya.

Beberapa orang tersenyum tipis.

“Meme politik. Satire. Ngeledek pejabat.”

Ia mengangkat bahu.

“Awalnya cuma buat lucu-lucuan di Twitter. Follower naik. Orang-orang kirim pesan, bilang aku berani.”

“Berani atau nekat?” Rizal menyahut pelan.

Derri tersenyum kecil.

“Mungkin dua-duanya.”

Ia menunduk.

“Satu postingan tentang proyek jembatan. Aku edit foto pejabat jadi karakter kartun. Pakai caption sindiran.”

Ia menatapku sekilas. Aku tahu proyek jembatan yang ia maksud bukan sekadar cerita umum.

“Seminggu kemudian, polisi datang. Katanya aku menyebarkan kebencian. Melanggar Undang-Undang ITE.”

Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik

“Aku cuma bercanda,” katanya lirih. “Mereka tidak.”

Sunyi.

“Sidang cepat. Bukti tangkapan layar. Ahli bahasa. Ahli digital. Semuanya serius banget.”

Ia tertawa pendek, tanpa humor.

“Lucunya, orang-orang yang kukritik tetap bebas. Aku yang masuk.”

Liyan mengangguk pelan. “Kata-kata bisa lebih tajam dari pisau.”

Derri menatap tangannya sendiri.

“Aku pikir internet itu ruang bebas. Ternyata nggak semua orang boleh bercanda.”

Lingkaran terasa lebih berat malam itu. Bukan karena kejahatan besar. Justru karena semuanya terasa terlalu manusiawi.

Beberapa malam kemudian, tatapan itu kembali padaku.

Aku tahu waktunya.

“Aku kerja di pengadaan proyek,” kataku pelan. “Aku lihat mark-up.”

Tak ada yang bergerak.

“Angkanya terlalu besar. Aku cek dokumen. Bandingkan harga pasar.”

Aku bisa merasakan kembali meja kerjaku. Berkas-berkas. Tanda tangan. Angka-angka.

“Atasanku dan satu rekan ngajak aku ikut bagian. Katanya semua orang dapat jatah.”

Aku menarik napas.

“Aku nolak.”

“Kenapa?” tanya Rizal.

“Karena aku enggak mau terlibat uang haram, aku niat melapor. Tapi sebelum sempat, dokumen palsu muncul. Tanda tangan atas namaku.”

Ekki mengerutkan kening. “Kambing hitam.”

Aku mengangguk.

“Di sidang, pengacaraku bilang kalau aku menang, anakku bisa celaka.”

Kata-kata itu masih terasa seperti racun.

“Aku mengakui tanda tangan palsu itu.”

Lingkaran sunyi. Bukan sunyi yang canggung. Sunyi yang menerima.

Liyan berbicara pelan, “Kita semua di sini karena satu keputusan. Ada yang satu detik. Ada yang satu tanda tangan.”

Aku menatap lantai. Rasanya aneh—mengaku tanpa merasa dihakimi.

Di luar lingkaran, aku adalah narapidana korupsi. Di dalam sini, aku hanya ayah yang takut kehilangan anaknya.

Malam-malam terapi itu menjadi jangkar. Tanpanya, mungkin aku sudah kehilangan arah.

Tapi hidup di lapas tidak pernah benar-benar tenang.

Suatu pagi, kabar menyebar cepat: Randi mencoba kabur.

Randi bukan bagian dari lingkaran kami. Ia lebih sering bergaul dengan orang-orang Blok Utara. Tubuhnya kekar, pikirannya selalu gelisah.

Katanya ia menyuap salah satu petugas untuk membuka akses gudang belakang. Dari sana, ia mencoba memanjat pagar saat jam sibuk.

Rencana itu gagal.

Alarm berbunyi. Sirene pendek yang jarang terdengar. Semua napi dikumpulkan di lapangan.

Randi dibawa lewat depan kami. Tangannya diborgol ke belakang. Wajahnya lebam. Bibir pecah.

Ia tidak melawan. Hanya menatap lurus ke depan.

Beberapa hari kemudian, ia dipindahkan ke sel isolasi.

Sel kecil tanpa jendela. Lampu menyala hampir sepanjang waktu. Tidak ada teman bicara.

“Lebih parah dari hukuman awal,” bisik Derri malam itu.

Aku tidak bisa berhenti memikirkan Randi.

Kabur terdengar seperti keberanian. Tapi di sini, itu juga berarti bunuh diri perlahan.

Tekanan mulai merayap lagi dalam kepalaku.

Sudah 2 tahun berjalan.

Jika perhitunganku benar, tersisa sekitar satu tahun menuju Pembebasan Bersyarat.

Satu tahun terdengar dekat.

Tapi di tempat ini, satu minggu saja bisa mengubah segalanya.

Aku mulai menghitung hari lebih sering. Mengingat tanggal. Mengulang kemungkinan terburuk dalam kepala.

Bagaimana kalau ada pelanggaran kecil? Bagaimana kalau aku terlibat perkelahian tanpa sengaja? Bagaimana kalau seseorang menyeret namaku?

Lingkaran terapi membantu, tapi tidak menghapus ketakutan.

Suatu malam, setelah sesi selesai dan yang lain mulai beranjak, Rizal menepuk bahuku.

“Kau kelihatan capek.”

“Aku takut gagal PB,” kataku jujur.

Ia tersenyum tipis. “Takut itu bagus. Bikin kita hati-hati.”

“Aku cuma ingin pulang.”

“Semua juga ingin pulang.” jawabnya.

Aku kembali ke sel, berbaring di kasur tipis, menatap langit-langit retak yang sudah kuhafal polanya.

Di luar, suara serangga malam bercampur dengan langkah sipir.

Di dalam, aku memutar ulang cerita kami di lingkaran.

Pembunuh karena satu detik.

Pecandu karena tekanan hidup.

Pembuat meme karena satire.

Ayah yang menolak korupsi.

Kami bukan pahlawan. Bukan juga sepenuhnya monster.

Kami hanya manusia yang pernah berada di titik salah—atau waktu yang salah.

Dan di tengah tembok tinggi dan pagar berduri itu, lingkaran kecil kami menjadi satu-satunya tempat di mana aku masih merasa utuh.

Tersisa satu tahun.

Aku harus bertahan.

Bukan hanya dari kekerasan.

Tapi dari pikiranku sendiri.

 

Satu bulan sebelum pembebasan bersyarat, waktu berubah menjadi sesuatu yang berisik.

Setiap detik terdengar.

Aku menghitung hari bukan lagi dengan coretan di dinding, tapi dengan denyut di kepala. Tiga puluh. Dua puluh sembilan. Dua puluh delapan.

Satu kesalahan kecil saja bisa menghapus semuanya.

Aku menjadi lebih pendiam. Di lingkaran terapi, aku tetap duduk, tetap mendengar, tapi jarang bicara. Bahkan Liyan menyadarinya.

“Kau seperti orang yang sudah berdiri di pintu,” katanya suatu malam.

“Mungkin,” jawabku.

Kayla semakin jarang datang. Bukan karena ia tak mau. Sekolahnya padat kegiatan tambahan. Dan wabah belum berhenti total, semua aktivitas diluar masih dibatasi.

Mertuaku yang datang menjengukku, mereka bilang ia tumbuh cepat. Sudah lebih tinggi. Sudah mulai jarang bercerita.

Setiap kali jadwal kunjungan kosong tanpa namanya, ada ruang kecil di dadaku yang terasa hampa.

Aku takut ia mulai belajar hidup tanpa aku didalamnya.

Tekanan itu datang pelan.

Ivan muncul pertama kali di lapangan jemur. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar. Tatapannya tidak seperti napi lain—terlalu percaya diri, terlalu tenang.

Ia berasal dari blok lain. Blok yang jarang bersinggungan denganku.

“Kris, ya?” katanya, seolah kami teman lama.

Aku mengangguk singkat.

“Kudengar kau pintar hitung-hitungan. Proyek, administrasi, begitu.”

Aku tak menjawab.

Ia tersenyum. “Di sini juga ada proyek.”

Aku sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.

Ia duduk di sampingku tanpa diundang.

“Bisnis kecil. Aman. Semua dapat bagian. Barang bagus. Titip uang. Kadang bantu cari napi atau pelanggan yang butuh kepuasan nafsu.” Ia mengucapkannya ringan, seolah membahas jual beli pulsa.

Aku berdiri sebelum ia selesai.

“Aku nggak tertarik.”

Ia tertawa pelan. “Semua orang tertarik kalau tahu keuntungannya.”

Aku pergi tanpa menoleh.

Tapi Ivan tidak berhenti.

Beberapa hari kemudian ia datang lagi, kali ini di lorong dekat sel.

“Kau mau keluar dengan apa? Tabunganmu habis, kan?” katanya pelan. “Aku bisa atur sesuatu untukmu di luar nanti.”

Aku menahan emosi.

“Aku cuma mau pulang.”

“Justru itu. Pulang perlu uang.”

Aku menatapnya, tapi tidak terlalu lama. Aturan pertama.

“Aku nggak mau ada masalah.”

Ivan mendekat sedikit. “Masalah itu relatif. Yang penting, kau bersama orang yang tepat.”

Aku masuk ke sel tanpa menjawab.

Malamnya aku sulit tidur.

Bukan karena godaannya. Tapi karena cara ia berbicara. Seolah semua ini sudah diatur. Seolah ia tahu aku hampir bebas.

Ia kembali datang, lagi dan lagi. Selalu dengan nada santai. Selalu dengan tawaran yang dibungkus sebagai kesempatan.

“Cuma bantu catat distribusi.”

“Cuma simpan barang disuatu tempat.”

“Cuma jembatani orang.”

Aku selalu menggeleng.

Setiap penolakan membuat tatapannya berubah sedikit. Bukan marah. Lebih seperti mencatat.

Aku mulai merasa dia bukan sekadar napi yang bosan.

Suatu pagi, namaku dipanggil.

“Kristian!”

Suara sipir menggema di lorong.

Jantungku berdegup keras. Panggilan mendadak jarang membawa kabar baik.

Aku mengikuti sipir ke ruang administrasi. Ruangan kecil dengan kipas angin berdecit dan tumpukan map lusuh.

Seorang petugas duduk di balik meja. Wajahnya datar.

“Kris, ya.”

“Iya, Pak.”

Ia membuka map cokelat, membalik beberapa lembar.

“Kelakuan selama 3 tahun 2 bulan sangat baik. Tidak ada pelanggaran berat. Ikut program pembinaan. Terapi kelompok.”

Aku menelan ludah.

“Syarat Pembebasan Bersyarat terpenuhi.”

Kalimat itu membuat dunia seperti berhenti sesaat.

“Sisa administrasi sedang diproses,” lanjutnya. “15 hari lagi kau bebas.”

Angka itu berputar di kepalaku. 15 hari.

“Terima kasih, Pak,” suaraku hampir tak terdengar.

Ia mengangguk singkat. “Jangan bikin masalah sampai hari itu!”

Aku mengangguk lebih dalam dari yang seharusnya.

Keluar dari ruangan itu, langkahku terasa ringan sekaligus berat. Lorong yang sama, tembok yang sama, tapi rasanya berbeda.

Aku kembali ke sel. Liyan menatapku, membaca sesuatu dari wajahku.

“PB?” tanyanya.

Aku mengangguk.

Rizal tersenyum lebar untuk pertama kalinya dalam minggu-minggu terakhir. Ekki menepuk bahuku.

Kelompok terapi terasa hangat.

“Aku tinggal 15 hari lagi.” kataku pelan.

Tak ada yang iri. Hanya senyum kecil dan ucapan pelan, “Jangan lupakan kami kalau sudah di luar ya.”

Aku tersenyum, tapi di dalam ada sesuatu yang tak sepenuhnya tenang.

Di lapangan sore itu, Ivan berdiri jauh, bersandar di tembok. Tatapannya bertemu denganku.

Ia tersenyum.

Bukan senyum ramah.

Lebih seperti orang yang tahu sesuatu.

Aku mengalihkan pandangan.

15 hari lagi aku bebas.

Harapan itu tipis, seperti benang yang ditarik terlalu tegang.

Dan untuk pertama kalinya, aku sadar—semakin dekat pintu itu, semakin besar juga kemungkinan sesuatu mencoba menarikku kembali.


Keesokan paginya. 

14 hari sebelum Pembebasan Bersyarat.

Aku mengulang angka itu sepanjang pagi. Seperti mantra yang harus kujaga agar tidak hilang.

Siang itu matahari jatuh tepat di lapangan jemur. Udara panas memantul dari lantai semen. Orang-orang bergerak malas. Beberapa mencuci. Beberapa hanya duduk menunggu waktu habis.

Ivan berdiri di dekat pagar kawat.

“Kris,” panggilnya.

Aku ingin mengabaikannya. Tapi ada sesuatu dalam nada suaranya—tenang, terlalu tenang.

Aku mendekat secukupnya. Tidak terlalu dekat.

“Aku bebas tujuh hari lagi,” katanya sambil tersenyum.

Aku tidak menjawab.

“Kita sempat bicara soal bisnis. Tawaran itu masih ada. Kau bisa pegang dari dalam. Aman. Jaringan sudah rapi.”

“Aku sudah bilang tidak.”

Ia mengangguk pelan, seolah menghargai konsistensiku.

“Ya. Kau memang keras kepala.”

Ia menatap lurus ke mataku.

“Aku terima pekerjaan lain setelah keluar dari sini.”

Sesuatu di perutku mengencang.

“Pekerjaan apa?”

Ivan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Selembar foto kecil, sedikit terlipat di sudut.

“Bayarannya besar,” katanya ringan. “Aku hanya harus menghabisi seorang gadis kecil.”

Aku tidak langsung mengambil foto itu.

“Seorang gadis kecil.”

Dunia berhenti.

Tanganku bergerak sendiri, meraih foto itu.

Aku melihatnya.

Kayla.

Ia duduk di teras rumah mertuaku. Seragam sekolahnya rapi. Rambutnya dikuncir dua. Ia sedang tertawa pada sesuatu di luar bingkai.

Foto itu diambil dari jarak dekat.

Bukan dari jalan.

Bukan dari pagar.

Dari dalam halaman.

Jantungku seperti dihantam palu.

Di bagian bawah foto, ada tulisan kecil dengan tinta hitam:

“Salam dari yang belum selesai.”

Tanganku mulai gemetar.

Seseorang telah masuk ke halaman rumah itu.

Seseorang berdiri cukup dekat untuk menangkap wajah Kayla sejelas ini.

Aku tidak lagi mendengar suara lapangan. Tidak mendengar orang berbicara. Tidak mendengar angin.

Hanya darah di telingaku.

Ivan berbicara lagi, santai, seolah membahas cuaca.

“Bukan urusanku sebenarnya. Aku cuma eksekutor. Tapi karena kita pernah ngobrol, kupikir kau perlu tahu.”

Aku menatapnya.

Untuk sesaat, aku tidak melihat manusia di depanku.

Aku melihat ancaman.

Aku melihat jarak antara tembok penjara dan rumah Kayla yang tidak bisa kujangkau.

Aku gagal menyelamatkan Ayla saat itu.

Aku tidak berada di ruang bersalin ketika ia kehilangan nyawanya.

Dan sekarang—Aku tidak mampu melindungi Kayla dari balik tembok ini.

Rasa gagal itu datang untuk kedua kalinya. Lebih tajam. Lebih brutal.

Ivan masih tersenyum tipis.

“Kalau kau berubah pikiran soal kerja sama, hubungi aku ya.” katanya pelan.

Aku tidak ingat memutuskan untuk bergerak. Tubuhku sudah lebih dulu melangkah.

Tanganku meraih kerah bajunya.

Ivan sempat terkejut—hanya sepersekian detik.

Aku menghantamkan kepalanya ke lantai semen.

Suara benturan itu keras. Tumpul.

Orang-orang di sekitar menoleh.

Ivan mencoba melawan, tapi aku sudah tidak berpikir.

Pukulan pertama mendarat di wajahnya.

Lalu kedua.

Ketiga.

Darah mulai keluar dari hidungnya, dari bibirnya.

Ia mencoba menangkis. Aku menghantam lagi.

Aku tidak melihat wajahnya lagi. Aku melihat foto itu jatuh ke lantai semen.

Kayla di teras.

Tulisan hitam di bawahnya.

Salam dari yang belum selesai.

Aku menghantam kepalanya ke lantai lagi.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

“Berhenti, Kris!” suara Derri pecah.

Aku tidak mendengar.

Tanganku terasa panas dan licin.

Liyan menarik bahuku dari belakang. “Kris! Cukup!”

Aku mengayunkan siku, mengenai siapa pun yang mencoba mendekat.

Ivan sudah tidak melawan. Tubuhnya lunglai.

Tapi aku belum berhenti.

Rizal menangis panik di belakang. “Sudah! Sudah!”

Pukulan datang bertubi-tubi. Tulang jariku terasa nyeri. Tapi rasa sakit itu kecil dibanding api di dalam dadaku.

Ini bukan lagi perkelahian.

Ini eksekusi.

Langkah-langkah berat terdengar di lorong.

Terlambat.

Tongkat sipir menghantam punggungku keras.

Sekali.

Dua kali.

Rasa sakit menjalar, tapi tidak cukup untuk menghentikan.

Dua sipir menarik tubuhku paksa. Tanganku masih berusaha meraih Ivan.

“Aku bunuh kau!” suaraku serak, bukan lagi suaraku sendiri.

Ivan tergeletak di lantai. Wajahnya tak lagi bisa dikenali dengan jelas. Darah menggenang di sekitar kepalanya.

Matanya terpejam.

Tubuhnya tidak bergerak.

“Koma,” kudengar seseorang berbisik kemudian.

Tanganku diborgol.

Foto itu di lantai terciprat darah.

Aku duduk di sel isolasi malam itu.

Ruangannya sempit. Dinding abu-abu. Lampu putih menyala tanpa henti.

Tidak ada Liyan. Tidak ada Rizal. Tidak ada lingkaran.

Hanya aku dan napasku sendiri.

Punggungku berdenyut akibat hantaman tongkat. Buku-buku jariku bengkak. Ada darah kering di sela kuku.

Seorang petugas datang sore tadi membawa kabar.

“PB-mu dibatalkan.”

Aku tidak terkejut.

“Kasus baru: penganiayaan berat terhadap sesama narapidana.”

Ivan masih koma di klinik lapas.

“Hukuman tambahan kemungkinan dua tahun.”

Kalimat itu diucapkan datar. Seperti membaca angka di laporan.

5 tahun menjadi 7 tahun.

14 hari menjadi 2 tahun lebih dan tambahan 2 tahun lagi.

Aku menunduk lalu menangis.

Di kepalaku, wajah Kayla tetap jelas.

Jika aku tidak melakukan apa-apa, ia mungkin mati.

Aku melakukan ini, dan aku kehilangan pembebasan bersyaratku.

Apa pun pilihanku, aku tetap gagal sebagai ayah.

Lampu isolasi berdengung pelan.

Aku bersandar ke dinding dingin.

Total masa hukuman menjadi 7 tahun, 5 + 2.

Aku memejamkan mata.

14 hari itu hancur dalam satu siang.

Dan untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku kehilangan segalanya dalam hitungan detik.

 

Epilog :

Aku keluar dari gerbang Lapas Cendana Kelas IIA Bekasi tanpa hitungan hari di kepala.

Tidak ada lagi angka yang harus kuhafal.

Kayla berdiri beberapa meter di depanku. Dia sudah berumur 14 tahun sekarang. Lebih tinggi dari yang kuingat. Wajahnya masih menyimpan Ayla, tapi sorot matanya lebih tegar.

Aku berumur 42 Tahun.

Kami saling menatap beberapa detik yang terasa seperti menjahit kembali 7 tahun yang hilang.

Ia yang lebih dulu memelukku.

Tidak canggung. Tidak ragu.

Pak Surya telah tiada saat aku menjalani tambahan hukuman. Aku tak sempat meminta maaf atas beban yang kutinggalkan. Luka itu akan selalu ada. Tapi di sampingku kini berdiri alasan untuk terus berjalan.

Hidupku sederhana. Kadang aku menarik ojek online. Kadang membantu angkut barang di pasar. Apa pun pekerjaannya, satu hal tak pernah kutukar lagi: waktu bersama Kayla.

Aku menjemputnya sekolah. Mendengar ceritanya. Menjadi ayah pada umumnya.

Masa lalu tetap ada, tapi tidak lagi menguasai.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku benar-benar pulang.

Share: